PSI kecam pelecehan & intimidasi terhadap ibu & anak di acara car free day
PSI mengecam keras pelecehan dan intimidasi terhadap seorang ibu dan anak pada acara Car Free Day (CFD) di Bunderan HI. Jubir PSI Mohamad Guntur Romli mengatakan, dalam demokrasi perbedaan aspirasi dan beda kaos harus tetap dihormati dan dihargai asalkan tidak boleh saling melecehkan dan mengintimidasi.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengecam keras pelecehan dan intimidasi terhadap seorang ibu dan anak pada acara Car Free Day (CFD) di Bunderan HI. Jubir PSI Mohamad Guntur Romli mengatakan, dalam demokrasi perbedaan aspirasi dan beda kaos harus tetap dihormati dan dihargai asalkan tidak boleh saling melecehkan dan mengintimidasi.
"Dalam video yang viral di media sosial, seorang ibu dan anaknya dilecehkan, dikerubungi, dikibas-kibasin duit, anaknya terlihat menangis ketakutan. Ini pelecehan terhadap perempuan dan bentuk intimidasi," kata Guntur Romli dalam keterangan pers, Minggu (29/4).
Meski demikian, kader muda Nahdlatul Ulama (NU) ini mengaku bangga dengan ketegaran dan keberanian sang ibu. Utamanya, ketika ibu tersebut menguatkan anaknya.
"Kami sekaligus bangga pada ibu yang begitu tegar dan justru menguatkan anaknya. Dia berani melawan dengan mengatakan 'Kita tidak takut Zaky! Kita benar, kita tidak akan pernah takut!'. Luar biasa keberanian ibu itu dalam melawan pelecehan dan intimidasi. Akhirnya yang melecehkan terkesan malu dan pergi," tambahnya.
Guntur meminta pihak kepolisian untuk menjamin intimidasi semacam ini tidak terjadi lagi, apalagi dalam ruang publik seperti CFD. Menurutnya, ini akan menjadi preseden buruk bagi demokrasi Indonesia.
"Kepolisian harus menjamin kasus serupa tidak terjadi lagi. Jangan sampai warga negara Indonesia bisa diintimidasi oleh kerumunan orang hanya karena menyampaikan aspirasinya. Apalagi intimidasi demikian disampaikan depan anak kecil, bagaimana psikologi anak tersebut?" katanya.
Dia juga meminta semua pihak untuk menahan diri dan tidak terprovokasi untuk melakukan pembalasan dengan cara-cara yang intimidatif.
"Saya harap semua pihak mampu menahan diri dan tidak terpancing untuk balas dendam. Kekerasan hanya dilakukan oleh mereka yang tidak siap hidup dalam alam demokrasi. Persoalan seperti ini baiknya diselesaikan secara hukum," katanya.
(mdk/dan)