LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

PSI: Hari Santri adalah momentum jihad

Dia mengingatkan, meskipun Resolusi Jihad ditandatangani oleh ulama dan kiai, namun nama yang digunakan bukanlah Hari Ulama atau Hari Kiai, tapi Hari Santri. "Ini menandakan kesetaraan," jelasnya.

2018-10-22 16:21:54
Partai Solidaritas Indonesia
Advertisement

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengimbau umat Islam Indonesia menjadikan Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober sebagai momentum Jihad untuk kebangsaan dan kemanusiaan. Bukan untuk perpecahan dan terorisme.

"Alim ulama di Indonesia sejak kelahiran bangsa ini telah berjihad untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kesatuan Indonesia, karena itu umat Islam saat ini harus melanjutkan cita-cita luhur itu, dan bukannya menciptakan perpecahan dan ketakutan," kata Mohamad Guntur Romli, juru bicara PSI, Senin (22/10).

Menurut Guntur Romli, Hari Santri merupakan peringatan atas dikeluarkannya Resolusi Jihad Alim Ulama pada tanggal 22 Oktober 1945. Dalam Resolusi itu termuat fatwa kewajiban bagi setiap muslim mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia yang disebut jihad.

Advertisement

Sehingga, dia menegaskan, menjaga kesatuan NKRI merupakan jihad kebangsaan dan kemanusiaan, dan bukan untuk terorisme.

"Hari Santri adalah peringatan dikeluarkannya Resolusi Jihad oleh Alim Ulama 22 Oktober 1945, berisi jihad untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia meski bukan negara Islam dan bukan negara Khilafah. Mereka yang mati membela Indonesia pun dinyatakan syahid. Ini jihad kebangsaan dan kemanusiaan," ujarnya.

"Alim Ulama kita sudah melakukan kontekstualisasi jihad untuk membela kemerdekaan dan melawan penjajahan. Ini ajaran Islam yang universal, bukan jihad ala ISIS dan Al-Qaidah yang malah bikin terorisme, ketakutan, kerusakan dan kekacauan," tambah Guntur Romli.

Advertisement

Dia mengingatkan, meskipun Resolusi Jihad ditandatangani oleh ulama dan kiai, namun nama yang digunakan bukanlah Hari Ulama atau Hari Kiai, tapi Hari Santri. "Ini menandakan kesetaraan," jelasnya.

"Santri adalah pembelajaran seumur hidup. Meski sudah menjadi kiai dan ulama ia tetap disebut santri, karena tetap belajar dari buaian sampai kuburan," ungkapnya.

Sebagai santri, Guntur Romli menyatakan bahwa umat Islam harus berterimakasih pada Presiden Jokowi karena penetapan hari Resolusi Jihad Ulama ini sebagai Hari Santri.

"Peringatan Hari Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 22 Tahun 2015. Penetapan Hari Santri Nasional merupakan penunaian Jokowi atas janjinya saat Kampanye Pilpres tahun 2014. Jadi, ingat Hari Santri, Ingat Jokowi," pungkasnya.

Baca juga:
Ganjar minta santri jihad lawan radikalisme hingga gerakan merongrong Pancasila
'Santri milenial berada di garda terdepan kampanyekan perdamaian'
Wagub Jabar: Dulu santri tersisihkan, saya selalu diolok-olok kampungan
Ziarah ke makam Hasyim Asy'ari, Prabowo-Sandi napak tilas resolusi jihad
Ma'ruf Amin: Santri harus mengisi pembangunan menghilangkan kemiskinan
Gaya ribuan santri Kota Tangsel upacara pakai peci dan sarung

(mdk/fik)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.