Protes 5 hari sekolah, pendemo gelar aksi teatrikal & bakar keranda
Kebijakan lima hari sekolah yang diatur dalam Permendikbud no 23 tahun 2017 dianggap memenjarakan anak didik, terutama santri di dalam sekolah. Menuntut kebijakan tersebut dicabut, ribuan Keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) Banyumas turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi salah satu lewat teatrikal.
Kebijakan lima hari sekolah yang diatur dalam Permendikbud no 23 tahun 2017 dianggap memenjarakan anak didik, terutama santri di dalam sekolah. Menuntut kebijakan tersebut dicabut, ribuan Keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) Banyumas turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi salah satu lewat teatrikal.
Di hadapan ratusan massa aksi, Teater Pergerakan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggambarkan situasi anak didik yang tak memiliki keleluasan bergerak dengan adanya kebijakan full day school (FDS). Empat remaja dalam aksi tearikal terikat dan dipaksa masuk gelanggang oleh pria bestelan jas sebagai gambar Mendikbud Muhajir Effendi, yang memaksakan berlakunya lima hari sekolah. Kebijakan itu dinilai tidak populis namun justru bakal menjatuhkan sang menteri dari jabatannya.
Pegiat Teater Pergerakan, Arda Alanza (24) mengatakan kejatuhan sang menteri disimbolkan lewat keranda bertuliskan nama Muhajir Effendi yang terbakar. Aksi teatrikal ini dimaksudkan bukan untuk menyulut protes, tetapi sebagai bagian penggambaran persuasif bahwa lima hari sekolah telah menimbulkan keributan dalam pendidikan, terutama meresahkan warga Nahdiyin. Pasalnya secara nyata lebih dari 70 ribu Madrasah Diniyah (Madin) dan ratusan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) berpotensi gulung tikar.
"Delapan jam sehari dihabiskan di sekolah. Sekolah justru jadi semacam penjara. Kami ikut ambil bagian untuk menolak, karena pendidikan alquran, keagamaan yang banyak dilakukan warga NU di surau-surau, masjid di desa-desa, juga pesantren saat sore hari rawan tidak bisa diikuti. Kebijakan ini seakan membunuh tradisi NU," kata Arda saat ditemui merdeka.com di alun-alun Purwokerto, Senin (7/8).
Dalam aksi teatrikal itu, juga dibacakan puisi penyair Wiji Tukul yang berjudul peringatan. Puisi itu untuk mengingatkan agar suara rakyat tidak diacuhkan, dan ketika penguasa tak mempertimbangkan bahkan membungkap suara rakyat, maka kebenaran terancam.
"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, hanya ada satu kata Lawan!" ucap Arda saat berpidato.
Terpisah pengurus cabang PMII Purwokerto Sufi Syahlan Ramadhan mengatakan akan terus mengawal tuntutan penolakan kebijakan 5 hari sekolah. Ia menegaskan kebijakan itu tidak relevan dengan tradisi pendidikan yang telah berjalan sejak lama, terutama pendidikan keagaamaan. Kebijakan tersebut dinilai berdampak merusak karakter anak bangsa yang hanya akan bertindak secara kognitif dan tidak mendasarkan diri pada emosi bahkan spirirual.
"Kebijakan ini tidak manusiawi," katanya.(mdk/cob)