Prabowo Silat: Kisah Masa Muda, Bekas Luka, dan Warisan Budaya Bangsa
Presiden Prabowo Subianto berbagi cerita mendalam tentang keterlibatannya dengan pencak silat sejak muda, termasuk pengalaman yang meninggalkan bekas luka, serta pandangannya mengenai pentingnya Prabowo silat sebagai warisan budaya dan pembentuk karakter.
Presiden Prabowo Subianto menceritakan perjalanan panjangnya dalam dunia pencak silat, sebuah seni bela diri yang telah digelutinya sejak usia belia. Dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVI PB IPSI 2026 di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu, ia mengungkapkan pengalaman latihannya yang intens.
Prabowo bahkan mengakui masih memiliki bekas luka di tubuhnya sebagai bukti dari latihan keras yang pernah dijalaninya. "Kemudian matah-matah, itu dulu bisa juga aku matah-matah, dulu. Masih ada bekas-bekas luka sedikit," kata Prabowo, menggambarkan dedikasinya pada olahraga ini.
Kisah ini tidak hanya menyoroti pengalaman pribadinya tetapi juga menekankan pentingnya pencak silat sebagai bagian integral dari kebudayaan dan identitas bangsa Indonesia yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
Jejak Keluarga dan Pendidikan Militer dalam Pencak Silat
Keterlibatan Prabowo dengan pencak silat berakar kuat dari latar belakang keluarganya yang sangat dekat dengan dunia bela diri. Kakeknya dikenal sebagai penggemar sekaligus pendiri perguruan silat Setia Hati di Madiun, Jawa Timur, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Selain itu, orang tua Prabowo juga memiliki peran aktif sebagai pembina di Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) selama periode yang cukup lama. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap pencak silat telah mengalir dalam darah keluarganya secara turun-temurun.
Ketertarikan Prabowo terhadap bela diri semakin mendalam saat ia menempuh pendidikan di akademi militer. Di sana, para taruna diwajibkan untuk mempelajari berbagai jenis bela diri, termasuk judo, tinju, anggar, dan tentu saja, pencak silat sebagai bagian dari kurikulum wajib.
Pengalaman ini berlanjut ketika Prabowo menjalani dinas pertamanya di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. Pada masa itu, setiap prajurit diwajibkan untuk menguasai pencak silat, termasuk aliran Merpati Putih yang dibina oleh Mayor Jenderal TNI Mung Parhadimulyo. "Jadi kita semua harus belajar Merpati Putih," ujarnya.
Pencak Silat: Warisan Budaya dan Pembentuk Karakter
Prabowo memandang pencak silat bukan hanya sekadar olahraga atau seni bela diri, melainkan sebagai panggilan sebagai anak bangsa dan warisan budaya yang tak ternilai. Ia menekankan bahwa pencak silat harus dijaga, dilestarikan, dan dibina karena merupakan bagian dari ilmu bela diri dan kebudayaan Indonesia.
"Kenapa pencak silat harus kita jaga, pencak silat harus kita lestarikan, pencak silat harus kita bina, karena pencak silat adalah bagian dari budaya kita, dan pencak silat itu adalah bagian dari belum masuk ilmu kesatria, ilmu bela diri," kata Prabowo, menegaskan pentingnya hal ini.
Presiden juga menegaskan bahwa pencak silat adalah bagian dari budaya bangsa yang mengandung nilai kesatria dan pembentukan karakter yang kuat. Ia menekankan pentingnya menjaga dan menghormati budaya sendiri sebagai ciri bangsa yang besar, termasuk menghormati leluhur dan nilai-nilai yang diwariskan melalui pencak silat.
Lebih dari itu, Prabowo menyebutkan bahwa pencak silat mengandung nilai-nilai luhur seperti sopan santun, kerendahan hati, serta keberanian untuk membela kebenaran, keadilan, dan pihak yang lemah. Ini menunjukkan bahwa pencak silat membentuk individu yang tidak hanya kuat secara fisik tetapi juga berintegritas moral.
Dukungan untuk PB IPSI dan Cita-cita Olimpiade
Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) dan seluruh perguruan yang telah berperan aktif dalam menjaga serta mengembangkan pencak silat sebagai kebanggaan budaya nasional. Ia mengakui kontribusi besar IPSI dalam melestarikan warisan ini.
"Jadi IPSI salah satu tonggak yang sangat penting. Saya terima kasih, saya bangga. Sekian tahun saudara tetap mendukung saya. Bersama-sama telah kita pertahankan kebanggaan budaya kita," ujar Prabowo, menunjukkan rasa hormat dan terima kasihnya.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyampaikan bahwa ia tidak akan kembali menjabat sebagai Ketua Umum PB IPSI. Keputusan ini membuka jalan bagi kepemimpinan baru untuk melanjutkan program organisasi dan membawa pencak silat ke jenjang yang lebih tinggi.
Meskipun tidak lagi menjabat, Prabowo menyatakan dukungannya penuh terhadap kepemimpinan baru yang akan mengemban amanah tersebut, termasuk dalam upaya ambisius untuk membawa pencak silat ke ajang Olimpiade. Ini menunjukkan komitmennya terhadap masa depan pencak silat di kancah internasional.
Sumber: AntaraNews