Potret Kekeringan di Garut, Warga Mengaku Berdampak pada Urusan Ranjang
Sejumlah warga yang tinggal di Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut saat didatangi merdeka.com tampak sedang menunggui sejumlah ember dan tempat lainnya yang bisa digunakan untuk menampung air. Mereka sabar menanti kiriman air bersih dari pemerintah.
Sejumlah warga yang tinggal di Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut saat didatangi merdeka.com tampak sedang menunggui sejumlah ember dan tempat lainnya yang bisa digunakan untuk menampung air. Mereka sabar menanti kiriman air bersih dari pemerintah.
Setiap rumah, setidaknya menyiapkan lebih dari lima tempat penampungan air. Ada ember, baskom, jolang dan tempat lainnya. Jumlah tempat penampungan yang banyak itu menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih di wilayah tersebut cukup banyak.
Salah seorang warga, Jafar (27) bercerita bahwa kekeringan di wilayahnya setidaknya sudah berlangsung sekitar empat bulan. Selama itu pula ia bersama warga lainnya harus memutar otak agar kebutuhan air bisa tercukupi dengan baik.
"Yang paling utama, kita mengutamakan air untuk buang air dan wudu. Kalau untuk mandi mah nomor sekian," kata Jafar kepada merdeka.com, Kamis (12/8).
Jafar mengaku, untuk mandi ia bisa paling bagus dua hari sekali. Paling parahnya, ia bisa tidak mandi selama empat hari berturut-turut karena stok air digunakan untuk hal-hal yang lebih penting seperti memasak dan lainnya.
Untuk minum, Jafar mengaku selama ini mengandalkan air minum isi ulang. Untuk mencuci, ia mengandalkan aliran sungai yang jaraknya ratusan meter dari rumahnya.
Ia menyebut bahwa kekeringan di wilayahnya hampir terjadi setiap tahun. Hal tersebut terjadi karena wilayahnya ada di kawasan perbukitan yang kesulitan air.
"Sumur-sumur, baik yang digali atau bor itu walau digali dalam airnya kalau kemarau begini sangat kecil, jadinya harus diatur sedemikian rupa," sebutnya.
Di tahun-tahun sebelumnya, ia mengungkapkan bahwa di setiap kekeringan selalu ada suplai air bersih dari pemerintah. Pemerintah pun menurutnya sudah melakukan upaya dengan membuat sumur bor, namun tetap saja hal tersebut tidak menjadikan kejadian sulitnya air tertangani dengan baik.
"Jadinya ya tetap membutuhkan suplai air sampai betul-betul pasokan air terpenuhi. Ini selama empat bulan kekeringan, baru kemarin pemerintah mengirimkan suplai air bersih ke sini. Ya lumayan membantu lah, apalagi kalau ngirimnya konsisten setiap hari," ungkapnya.
Warga lainnya, Yeni (53) bercerita bahwa selama kekeringan di wilayahnya ia harus mengatur jadwal 'ibadah' dengan suaminya. Hal tersebut harus dilakukan karena kondisi ketersediaan air untuk mandi besar tidak selalu ada.
"Jadinya kalau mau itu ya kita harus menyiapkan air dulu satu ember. Kalau enggak gitu, ya dosa, masa abis itu kita enggak mandi," ucapnya.
Yeni berharap agar kejadian kekeringan di wilayahnya bisa ditangani oleh pemerintah dengan baik. Selama ini, menurutnya memang pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk melakukan penanganan, namun kekurangan air masih kerap terjadi di wilayahnya.
Tidak hanya di desanya saja, kekeringan juga melanda desa lainnya yang ada di Kecamatan Cibatu, khususnya yang ada di kawasan perbukitan.
"Kalau lihat sawah-sawah mah udah kering banget lah. Karena di sini rata-rata sawahnya tadah hujan. Jadi baru ditanami padi kalau musim hujan," katanya.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum datang ke Cibatu sambil membawa tangki air bersih, Rabu (11/8). Dia membagikan air bersih kepada ribuan warga di Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu.
"Saya ditugaskan Pak Gubernur untuk melihat dan mendengar apa yang menjadi harapan masyarakat, karena ada salah satu orang yang kirim SMS kepada beliau (terkait kekeringan). Saya dengan Pak Kepala Dinas (Perkim) termasuk juga dengan BPBD ke sini untuk melihat. Ternyata memang benar masyarakat di sini tiap tahun kekeringan," ujarnya.
Uu mengungkapkan bahwa di lokasi tersebut, kalau satu bulan saja tidak turun hujan maka dampaknya terjadi kekeringan yang luar biasa, dan membutuhkan bantuan air dari pemerintah. Pemerintah Kabupaten Garut menurutnya sudah rutin memberikan bantuan.
"Tetapi mungkin apakah terus memberikan bantuan menyuplai air dengan tangki? Maka salah satu solusinya kami sudah bicara dengan pak kepala desa setempat termasuk juga Sekda Kabupaten Garut untuk ada pipanisasi dari sumber air yang tidak jauh sekitar 1,5 kilometer," ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sudah berkomunikasi dengan Sekda Provinsi Jawa Barat terkait hal tersebut. "Pak Sekda Provinsi akan bantu kebutuhan sebesar sekitar Rp500 juta," ungkapnya.
Menurutnya, proses realisasi bantuan tersebut tidak akan membutuhkan waktu yang lama karena akan menggunakan dana bantuan tidak terduga (BTT). Prosesnya pun akan lebih singkat karena tidak harus menunggu lelang.
"Dengan bantuan tersebut diharapkan di tahun depan, atau saat terjadi kemarau tidak terjadi kekurangan air seperti saat ini. Apalagi air ini kebutuhan dasar masyarakat," tutup Uu.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut Satriabudi menyebut bahwa kekeringan di wilayah tersebut sebetulnya sudah diprediksi. "Itu mengacu pada catatan BPBD Garut di tahun 2020, di mana wilayah yang rawan kekeringan parah di Kabupaten Garut adalah Kecamatan Cibatu," sebutnya.
Satriabudi mengaku bahwa pihaknya sudah melayangkan surat ke Pemerintah Kecamatan Cibatu terkait hal tersebut untuk bisa mengambil langkah-langkah. Namun pihaknya belum menerima surat balasan.
"Artinya kita membutuhkan data, baik warga hingga sumber air. Kalau ada sumber air, kita bisa koordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan pipanisasi. Kalau persoalannya lain, kita akan berkoordinasi dengan perusahaan daerah air minum untuk menyuplai air bersih," jelasnya.
Satriabudi menambahkan, berdasarkan hasil kajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncaknya akan terjadi di bulan Agustus ini. Karena itu, pihaknya tengah melakukan langkah untuk mengantisipasinya.
"Memang ada beberapa daerah di Kabupaten Garut yang rawan terjadi kekeringan, namun memang yang paling parah adalah wilayah Kecamatan Cibatu," tutup Satriabudi.
Baca juga:
Potret Pilu Ribuan Hewan Ternak di Kazakhstan Mati Akibat Kekeringan
Kekeringan Landa Garut, Ribuan Warga Butuh Pasokan Air Bersih
Mengering, Danau Terbesar Kedua di Bolivia Berubah Jadi Gurun
Dilanda Kekeringan, Warga Jonggol MCK di Sungai Cipamingkis
Penampakan Ribuan Flamingo Mati di Turki
11 Daerah di NTT Alami Kekeringan Ekstrem Panjang