Populasi di Kota Ambon Punya Antibodi Covid-19 Tertinggi
Kota Jayapura menyusul Kota Ambon dengan jumlah populasi yang memiliki antibodi Covid-19 sebesar 96,3 persen. Kemudian Kepulauan Seribu 96,1 persen dan Jakarta Barat 96,1 persen. Sementara wilayah yang mencatat populasi dengan antibodi Covid-19 terendah ialah Jayawijaya, Papua.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkap hasil sero survei atau survei antibodi Covid-19 di 100 kabupaten dan kota di Indonesia, baik wilayah aglomerasi maupun non aglomerasi. Dari wilayah tersebut, populasi yang memiliki antibodi Covid-19 tertinggi berada di Kota Ambon, Provinsi Maluku.
"Ini malah Kota Ambon itu vaksinasi secara nasional masih agak rendah. Tapi di kota tertentu seperti Kota Ambon 96,9 persen," ungkapnya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Kementerian Kesehatan RI, Jumat (18/3).
Kota Jayapura menyusul Kota Ambon dengan jumlah populasi yang memiliki antibodi Covid-19 sebesar 96,3 persen. Kemudian Kepulauan Seribu 96,1 persen dan Jakarta Barat 96,1 persen. Sementara wilayah yang mencatat populasi dengan antibodi Covid-19 terendah ialah Jayawijaya, Papua.
"Ini jomplang sekali Kota Jayapura dengan Jayawijaya yang ibu kotanya Wamena. Ini terendah 45,6 persen. Artinya kalau kumpul 100 orang, cuma 45 orang yang punya antibodi, 55 rentan," jelasnya.
Tito meminta pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap rendahnya populasi yang memiliki antibodi Covid-19. Terlebih jika ada warga yang mengalami keparahan saat terjangkit Covid-19.
"Ya, nanti bupati tanggung jawab lah terhadap rakyatnya. Kalau ada yang kemudian parah," ucapnya.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) melakukan survei antibodi Covid-19 pada November sampai Desember 2021. Pelaksanaan survei ini bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan.
Epidemiolog FKM UI, Pandu Riono yang terlibat dalam penelitian mengatakan sero survei dilakukan untuk mengukur proporsi penduduk yang sudah mempunyai kekebalan terhadap Covid-19 berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, pernah terdiagnosis Covid-19, dan status vaksinasi.
"Ini juga untuk mempelajari berapa besar kadar antibodi yang dimiliki penduduk," katanya.
Menurut Pandu, kadar antibodi sangat penting untuk menekan risiko masuk rumah sakit hingga mengalami fatalitas di tengah pandemi Covid-19. Terlepas apapun varian Covid-19 yang beredar di lingkungan masyarakat.
Epidemiolog FKM UI, Iwan Ariawan menambahkan hasil sero survei menunjukkan, 86,6 persen penduduk Indonesia pada November dan Desember 2021 sudah memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2. Meski demikian, mereka masih bisa terinfeksi Covid-19.
"Mereka masih mungkin terinfeksi, tapi dengan mereka memiliki antibodi, risiko untuk terjadinya sakit parah, meninggal karena SARS-CoV-2 itu akan jauh berkurang," jelasnya.
Iwan juga mengungkapkan, terdapat 73,9 persen populasi yang belum divaksinasi sudah memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2. Antibodi yang dimiliki populasi ini bersumber dari terinfeksi Covid-19.
"Tapi kalau kita lihat lagi, begitu orang-orang sudah mendapatkan vaksinasi yang sudah mendapatkan antibodi lebih tinggi lagi," imbuhnya.
Sebagai informasi, sasaran sero survei ini ialah penduduk berusia 1 tahun ke atas. Sampel survei di wilayah aglomerasi sebanyak 9.563 dan non aglomerasi 11.059 orang.
Metode survei menggunakan stratified two-stage cluster sampling design di setiap kabupaten/kota terpilih. Metode pemeriksaan yang digunakan untuk mengukur antibodi SARS-CoV-2 pada populasi ialah Elecsys Anti-SARS-CoV-2 yang dibuat oleh Roche.
Survei dilakukan di wilayah aglomerasi 9 provinsi 47 kabupaten dan kota dan wilayah non aglomerasi 25 provinsi 53 kabupaten dan kota. Analisis data survei dengan melakukan pemadanan data wawancara dengan data laboratorium. Kemudian menggunakan penimbang brdasarkan desain sampel yang digunakan.
Penimbang lalu dikalibrasi dengan estimasi jumlah penduduk berdasarkan wilayah, jenis kelamin, dan kelompok umur. Selanjutnya, estimasi standard error dengan mempertimbangkan klaster dan strata.
(mdk/fik)