LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Polisi larang Persebaya bertanding di Gelora 10 November

Persebaya tidak bisa menjamu Persik Kediri pada laga kandang 13 Juni mendatang.

2012-06-04 02:52:31
suporter tewas
Advertisement

Insiden bentrok antara Bonek Mania dengan aparat kepolisian di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (3/6) sore, berujung sanksi polisi terhadap pertandingan berikutnya saat Persebaya 1927 akan ditantang Persik Kediri.

Sesuai jadwal, pada Rabu 13 juni mendatang, Bajul Ijo, julukan Persebaya Surabaya, bakal menjamu Persik Kediri, di Stadion Gelora 10 November. Sayangnya, akibat insiden tadi sore itu, Polrestabes Surabaya menskors pertandingan home Persebaya tersebut.

"Untuk pertandingan selanjutnya, akan diskors dulu. Tidak boleh ada pertandingan di sini (di Gelora 10 November). Sampai kapan? Nanti kita lihat perkembangannya dulu ke depan," tegas Kapolrestabes Surabaya Kombes Polisi Tri Maryanto, saat menjenguk korban meninggal Purwo Adi Utomo di Kamar Mayat (KM) RSUD dr Soetomo, Surabaya, Minggu (3/6) malam.

Tri juga menjelaskan, kalau tembakan gas air mata yang dilakukan anak buahnya karena adanya unsur pelanggaran Pasal 170 KUHP tentang kekerasan yang dilakukan bersama-sama. "Karena telah terjadi kekerasan bersama-sama, sesuai Pasal 170 KUHP, terpaksa kami harus menembakkan gas air mata untuk menghindari kejadian yang lebih besar. Ini sudah sesuai prosedur," tegasnya.

Kekerasan bersama-sama yang dimaksud Tri Maryanto adalah, aksi pelemparan botol dan batu yang dilakukan para suporter. Perwira dengan tiga melati di pundak ini mengklaim, aksi brutal para Bonek Mania itu bisa menimbulkan banyak korban jiwa jika tidak dicegah.

Dalam insiden itu, setidaknya ada satu suporter tewas, empat penonton dan 15 anggota polisi terluka. "Agar tidak semakin melukai pemain dan suporter lainnya, polisi pun menembakkan gas air mata," tegas dia lagi.

Sebelum pertandingan antara Persebaya 1927 melawan Persija Jakarta, lanjut dia, sweeping suporter sudah dilakukan anggotanya. "Hanya saja, tidak mudah memeriksa 20 ribu orang. Hingga akhirnya pelemparan itu tetap terjadi. Karena semakin tidak terkendali, membuat semua panik, para suporter pun berlarian dan ada kemungkinan mereka terinjak-injak."

Akibatnya, seorang supoter atas nama Purwo Adi Utomo, warga Babadan Rukun 6, Surabaya tewas terinjak-injak penonton yang panik karena tembakan gas air mata.

Menurut Tri, sebenarnya gas air mata dimaksudkan untuk menghalau para suporter yang ingin melompat ke arah lapangan. Sayangnya, tindakan polisi ini justru semakin memancing emosi suporter yang berbuntut kericuhan dan pengrusakan. "Bahkan kerusuhan itu terjadi sampai di luar stadion," pungkas dia.(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.