Polemik '33 Tokoh Sastra' dan analogi pelaut sejati
Menurut Gaus, pelaut sejati berkibar dan karam bersama kapalnya.
Polemik buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' memasuki babak baru setelah Maman S Mahayana, salah satu anggota tim juri sekaligus penulis (Tim 8), mengundurkan diri.
Bahkan, kepada Ketua Tim 8 Jamal D Rahman, Maman meminta mencabut 5 esai yang sudah ditulisnya, yakni tentang (1) Marah Rusli, (2) Muhammad Yamin, (3) Armijn Pane, (4) Sutan Takdir Alisjahbana dan (5) Achdiat Karta Mihardja.
"Honorarium sebesar Rp 25 juta sebagai pembayaran kelima esai saya itu, akan saya kembalikan segera setelah kelima esai itu dicabut dari buku tersebut," tulis Maman yang kini bermukim di Seoul, Korsel, beberapa waktu lalu.
Mendapat 'serangan' dari dalam, anggota Tim 8 lainnya Ahmad Gaus angkat suara. Menurut dia, Tim 8 sudah bubar begitu buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' diluncurkan pada awal Januari lalu.
"Tim 8 tidak dibentuk sampai hari kiamat. Begitu buku dilaunching Tim 8 sudah bubar, jadi beliau mundur dari mana?" kata Gaus lewat akun Twitter-nya kemarin.
Ahmad Gaus adalah orang yang menulis esai tentang Denny JA, pusat polemik, di buku 700-an halaman tersebut. Kicauan Gaus ini juga disebarkan oleh Denny JA lewat akun Twitter-nya yang memiliki lebih banyak pengikut (follower).
Tidak hanya itu, Ahmad Gaus menganalogikan sikap Maman dengan bagaimana seharusnya seorang pelaut bertindak di kala badai.
"Para pelaut sejati tidak akan melompat dari kapal walaupun dihantam badai besar," kata Gaus soal kritik dari sejumlah sastrawan yang menghantam Tim 8.
Menurut Gaus, pelaut sejati berkibar dan karam bersama kapalnya. "Jika kapal yang Anda naiki diserang perompak, jangan berpikir mau menyeberang ke kapal perompak itu, sebab Anda pasti dimakan ikan hiu atau dibunuh," ujar Gaus.
Analogi pelaut sejati oleh Gaus itu lantas ditanggapi oleh sastrawan Cecep Samsul Hari. Cecep adalah orang yang mundur sebagai redaktur Majalah Sastra Horison karena kecewa dengan sikap Pemimpin Redaksinya Jamal D Rahman, yang menjadi Ketua Tim 8.
Menurut Cecep, kapten kapal yang baik adalah ketika kapalnya diserang badai dan merasa yakin kapalnya tidak bisa diselamatkan lagi, akan memberi instruksi tegas kepada semua penumpang kapalnya, termasuk anak buahnya, untuk segera menyelamatkan diri.
"Itulah gunanya ban dan baju pelampung dan itulah pula gunanya sekoci penolong (life boat)," ujar lewat status Facebook-nya.
"Dan dasar filosofis dari tindakannya (atau kode etiknya) adalah: 'menyelamatkan satu nyawa manusia sama nilainya dengan menyelamatkan seluruh umat manusia'," imbuh dia.
Sang kapten sendiri, kata Cecep, akan menyelamatkan diri paling akhir. "Atau jika martabat dan harga dirinya sangat tinggi, ia akan memilih untuk tenggelam bersama kapalnya," ujar Cecep.
Baca juga:
Fatin Hamama: Saya bukan perantara Denny JA
Ini pembelaan Denny JA sebut semua tudingan fitnah
Empat sastrawan ini mengaku diperalat Denny JA
Sastrawan Ahmadun akhirnya kembalikan Rp 10 juta ke Denny JA
Sastrawan mengaku melacurkan diri ke Denny JA demi Rp 10 juta