Polda Metro Bantah Isu Mogok Makan Tahanan dan Pembatasan Kunjungan
Tak hanya itu, setiap hari tahanan mendapat jatah tiga kali makan, lengkap dengan pengawasan ahli gizi.
Isu tahanan yang melakukan mogok makan di rumah tahanan Polda Metro Jaya dibantah Polda Metro Jaya. Kabid Humas Polda Metro, Brigjen Pol Ade Ary Syam Indradi memastikan semua hak-hak tersangka tetap dipenuhi. Mulai dari layanan kesehatan, akses kunjungan keluarga, hingga kebebasan beribadah.
"Tidak benar itu ada isu atau informasi tentang mogok makan, itu tidak benar," kata Ade Ary di Polda Metro Jaya, Jumat (19/9).
Hal itu juga diperkuat dengan keterangan Dirtahti Polda Metro, AKBP Dermawan Karosekali. Dia menerangkan sejak awal penahanan setiap tahanan mendapat jadwal kunjungan dari Senin sampai Kamis.
Tak hanya itu, setiap hari tahanan mendapat jatah tiga kali makan, lengkap dengan pengawasan ahli gizi.
Makanan yang dibagikan, kata Karosekali, selalu habis disantap. CCTV yang terpasang 24 jam juga menunjukkan tak ada yang menolak makan. Bahkan titipan dari keluarga yang lolos pemeriksaan tetap diberikan kepada penghuni rutan.
"Jadi sangat-sangat terperhatikan. Jadi untuk para tersangka ini dari awalpun datang, kami, saya khususnya selalu menjaga mereka dengan baik," ucap dia.
Mengenai kesulitan membesuk, Karosekali juga membantah. Dia menegaskan, keluarga inti maupun sahabat dekat masih bisa berkunjung sesuai aturan.
"Jadi informasi sulit untuk membesuk, saya memastikan tidak benar," ucap dia.
Kondisi Tahanan Terus Dipantau
Sementara itu, Kabiddokkes Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Ginting menambahkan, kondisi para tahanan terus dipantau.
Setiap hari lebih dari 70 orang diperiksa oleh tim medis, terdiri dari dokter maupun perawat. Pemeriksaan dilakukan secara rutin, mulai dari tekanan darah, nadi, suhu tubuh, hingga tes gula darah bila diperlukan. Menurut dia, belum ada temuan yang menunjukkan adanya gejala mogok makan.
"Jadi artinya yang orang sampaikan mogok makan itu tidak betul," tandas dia.
Sebelumnya, Syahdan Husein (SH), admin akun instagram @gejayanmemanggil, melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk perlawanan dari balik jeruji Polda Metro Jaya. Aksi itu sudah dilakukan sejak 11 September 2025.
Kabar itu disampaikan Kakaknya, Sizigia Pikhansa usai membesuk di Rutan Polda Metro Jaya, Rabu (17/9). Dia mengatakan, Syahdan memilih berhenti makan sebagai bentuk protes.
"Sejak 11 September, Syahdan sudah mogok makan. Berarti, per hari ini, sudah seminggu. Ini sebagai bentuk protesnya dia atas penangkapan-penangkapan seluruh aktivis. Dia mengatakan akan mogok makan sampai seluruh tahanan politik dibebaskan," kata dia.
Dia mengatakan, Syahdan tidak sendirian. Dukungan juga datang dari sesama penghuni rutan. Mereka ikut mogok makan. "Total 16 orang juga ikut mogok makan sebagai bentuk aksi dari penangkapan ini," ujar dia
Tanggung Beban Tersendiri
Di balik aksi itu, pihak keluarga juga menanggung beban tersendiri. Sejak awal penangkapan, mereka mengaku tidak pernah mendapat kabar apa pun.
"Tidak dikabari apapun, tapi tiba-tiba ditangkap dan jadi tersangka juga. Kemudian, mungkin dengan kondisi-kondisi seperti itu, itu mempengaruhi dari kondisi Syahdan sendiri," ujar dia.
Terlebih, akses untuk bertemu Syahdan dipersulit. Baik keluarga maupun pendamping hukum kerap dihalangi.
"Itu juga membuat psikis Syahdan terganggu, maksudnya dia tidak bisa mendapatkan pendampingan secara emosional atau psikologis juga. Karena, dia merasa, tidak mendapatkan pendampingan dari kuasa hukum atau keluarganya," ujar dia.
"Padahal, semua sedang bekerja keras di luar. Tapi memang akses untuk bertemu Syahdan dihalang-halangi," sambung dia.
Dalam kesempatan itu, Sizigia menegaskan pihak keluarga menolak Syahdan dicap sebagai provaktor.
"Karena memang, dengan situasi dan kondisi Indonesia saat ini, siapa yang butuh provokator untuk marah? Semua juga bisa merasakan amarahnya. Jadi, mereka hanya menyampaikan suara-suara kita," tandas dia.