LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

PN Sragen eksekusi rumah pesinden kondang pengikut setia Mujais

Sulani diduga ikut kelompok negara tandingan dengan presidennya bernama Mujais.

2016-09-08 17:29:22
Rumah sengketa
Advertisement

Pengadilan Negeri (PN) Sragen, Jawa Tengah mengeksekusi sebuah rumah mewah di Jalan Solo-Ngawi, Benersari, Ngrampal, Kamis (8/9). Rumah dua lantai tersebut diketahui sebagai milik Sulani, seorang pesinden kondang di Sragen. Sulani selama ini juga yang disebut-sebut sebagai pengikut setia Mujais, Presiden di Pemerintah Negara Republik Indonesia yang berkantor pusat di Malang.

Proses pengosongan rumah Sulani berlangsung dengan penjagaan cukup ketat dari puluhan anggota Sabhara Polres Sragen. Sejumlah anggota negara tandingan atau Pemerintah Negara Republik Indonesia ikut menyaksikan proses eksekusi. Sempat akan terjadi keributan antara Sulani dengan mantan menantunya, Sumardi.

Keributan terjadi lantaran Sulani menuduh mantan menantunya itu terlalu ikut campur. Mendapat tuduhan itu, Sumardi juga tak terima. "Mujais itu presiden abal-abal," teriaknya. Namun saat akan terjadi keributan, polisi pun berhasil melerainya.

Setelah situasi kondusif, eksekusi bisa dilakukan dengan lancar. Selama hampir satu jam sejumlah perabotan seperti meja, kursi, lemari, kulkas, gamelan, wayang dan lainnya berhasil dikeluarkan dari lantai dua.

"Rumah ini sebenarnya sudah dijual dari Bu Sulani kepada bu Hj Saryanti. Bu Sulani sudah tidak punya alasan untuk tinggal di sini. Rumah ini sudah dilelang BCA pada tahun 2014 lalu, pemenangnya adalah BCA sendiri," jelas Agus MAN, kuasa hukum Bank BCA.

Putra kedua Sulani, Ririn Ambarwati menjelaskan, ibunya tersebut merupakan korban dari Mujais. Ia yakin ibunya tak akan berhadapan dengan hukum jika tidak dipengaruhi Mujais.

"Sebenarnya saya sudah mengingatkan ibu, agar tidak ikut-ikutan kelompok Mujais. Tapi niatnya sudah bulat, tak bisa dikendalikan. Saya juga tidak tahu kapan ibu saya gabung Mujais," pungkasnya.(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.