PLTPB Baturraden masuk tahap Pengeboran, sejumlah warga menolak keras
Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi Baturraden memasuki tahapan pengeboran, Jumat (15/12). PT SAE selaku pengembang melakukan sosialisasi pengeboran sumur SMT-01 tersebut pada Rabu (13/12) di Graha Satria Sekretariat Daerah Banyumas, yang direspons keras sejumlah peserta sosialisasi.
Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi Baturraden memasuki tahapan pengeboran, Jumat (15/12). PT Sejahtera Alam Energy (SAE) selaku pengembang melakukan sosialisasi pengeboran sumur SMT-01 tersebut pada Rabu (13/12) di Graha Satria Sekretariat Daerah Banyumas, yang direspons keras sejumlah peserta sosialisasi terutama warga Desa Cilongok, Kecamatan Rawalo.
Warga saat sosialisasi tersebut mempertanyakan dampak-dampak bencana yang berpotensi terjadi dengan adanya tahap eksplorasi, yakni pengeboran di Gunung Slamet. Bahkan usai sosialisasi, sejumlah warga dan mahasiswa sempat berdemontrasi di luar Setda Banyumas menegaskan bahwa pengeboran tak disertai perencanaan penangulangan bencana.
Area Manager PT SAE, Bintang Sasongko mengatakan alat berat sudah memasuki Gunung Slamet sejak dua bulan lalu melalui Kabupaten Brebes. Pengeboran sendiri direncanakan pada Jumat (15/12) mendatang, dengan masa pengerjaan enam puluh hari. Terkait waktu perencanaan pengeboran di weelpad H sudah sesuai waktu yang disetujui pemerintah pusat.
"Kami melaksanakan ini sudah melaporkan dan membuat tembusan ke pemerintah Jawa Tengah dan Kabupaten. Untuk adanya penolakan kami sudah coba temui (warga). Pengeboran tetap jalan," ujar Bintang dalam kegiatan Penyampaian Informasi dimualianya Kegiatan Pengeboran Proyek Gunung Slamet PT SAE wilayah kerja panas bumi Baturraden, Rabu (12/12).
Pengeboran ini dilakukan untuk menentukan data panas bumi terkait geofisik, temperatur, tekanan dan akan dilakukan oleh perusahaan dari Amerika, Ia juga mengakui memang ada dampak yang berpotensi yakni lumpur pengeboran meluap, blow out dan paparan gas. Tapi menurutnya, sudah disiapkan penanganan berupa perencanaan manajemen resiko-hirarki kontrol berupa blow out preventer, sistem monitoring gas H2S, pemasangan master valve dan lain-lain.
"Kurang lebih pengeboran dengan kedalaman 3.000 sampai 3.500 meter," kata Bintang.
Salah satu warga Panembangan Kecamatan Cilongok, Royitul Jannah yang mengikuti sosialisasi mengatakan miris dengan adanya potensi bencana proyek pengeboran tetap dilakukan. Padahal sejak setahun terakhir sejak adanya proyek pembangunan PLTPB di Gunung Slamet warga terkena imbas air sungai berlumpur. Ia mengaku takut, pengeboran akan jadi bencana luapan lumpur atau lahar.
"Hidup kami was-was," katanya di hadapan PT SAE dan peserta sosialisasi, Rabu (13/12).
Sedang Tim Riset Aliansi Selamatkan Slamet, Dian Hamdani di tengah demontrasi usai sosialisasi mengatakan pengeboran tak didukung dengan perencanaan penanggulangan bencana. Padahal sudah diketahui kawasan Gunung Slamet rawan bencana.
"Kami meminta ada kaji ulang dahulu sebelum pengeboran. Selain itu sudah jelas-jelas keberadaan proyek PLTB oleh PT SAE sudah mengakibatkan pencemaran air," ungkapnya.
(mdk/cob)