Pilot Bravo sudah diingatkan jangan bermanuver terlalu berani
Pesawat Bravo pabrikan Swiss tersebut merupakan pegangan Norman.
Dua pilot dan co pilot tewas dalam tragedi jatuhnya pesawat 202 Bravo milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) di Bandung Air Show (BAS) 2012. Dodi Atmaja, pilot pesawat Gelatik PZL 104 G Biru yang berduet dengan pesawat almarhum Marsma (Purn) Norman T Lubis di angkasa Bandung menyesalkan kematian juniornya itu.
Sebelum terbang, Dodi sudah mewanti-wanti Norman agar tidak menampilkan manuver berani apalagi berputar yang dilakukan beberapa kali. Namun, kecintaan Norman akan penerbangan atraksi tergantikan.
"Saya hanya menyarankan beliau melakukan steepturn, membelok tajam dan taktik landing yang aman-aman saja," kata Dodi di TPU Sirnaraga, Bandung, Minggu (30/9).
Pesawat Gelatik yang diterbangkan Dodi bernomor registrasi Reg IN033 menampilkan aerobatik sempurna dan mampu memukau penonton.
Tak mau kalah memanjakan mata penonton, pesawat Bravo bermanuver dengan memutar pesawat. Putaran pertama berhasil, tapi upaya kedua gagal hingga menyebabkan pesawat oleng dan terjatuh.
Posisi jatuhnya pesawat sendiri berada di luar area landasan, tepatnya di perkantoran Dislitbang TNI AU. Pesawat Bravo yang diterbangkan Norman menimpa plang nama Persatuan Istri TNI AU.
"Saya landing pertama, dan beberapa saat kemudian tiba-tiba melihat pesawat beliau jatuh," ujar Dodi.
Perkenalan Dodi dengan Norman sudah terjadi sejak tahun 1960 silam dan sudah ribuan kali mengangkasa. Apalagi, pesawat Bravo pabrikan Swiss tersebut merupakan pegangan Norman.(mdk/did)