LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Petani Sumsel menjerit, harga pupuk dan bibit masih mahal

Petani Sumsel menjerit, harga pupuk dan bibit masih mahal. Sejak beberapa tahun terakhir biaya penggarapan sawah hingga panen jauh meningkat. Jika satu hektar sawah biasanya hanya dibutuhkan Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta, kini uang yang dikeluarkan setidaknya Rp 5 juta.

2016-09-23 00:33:00
pertanian
Advertisement

Target swasembada pangan untuk memenuhi kebutuhan nasional tak diiringi dengan kemudahan dalam produksi padi. Hal ini membuat petani di Sumsel menjerit lantaran harus mengeluarkan biaya lebih dalam menggarap sawah.

Raslani (29), petani asal desa Sumber Mulyo, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, mengaku, tanaman padi masih menjadi harapan besar sebagai sumber pendapatan. Namun, saat ini pendapatannya semakin menurun dampak tingginya biaya produksi.

"Kami masih bergantung dengan sawah, tanam padi, karena cuma itu yang bisa digarap," ungkap Raslani kepada merdeka.com, Kamis (22/9).

Menurut dia, sejak beberapa tahun terakhir biaya penggarapan sawah hingga panen jauh meningkat. Jika satu hektar sawah biasanya hanya dibutuhkan Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta, kini uang yang dikeluarkan setidaknya Rp 5 juta.

"Harga pupuk tiap tahun naik terus, bibit yang bagus mahal, yang biasa hasilnya kurang bagus. Mau tidak mau butuh duit lebih banyak," ujarnya.

Selain itu, sambung dia, biaya garapan tak sebanding dengan harga gabah maupun beras yang murah. Saat ini saja, satu kilogram gabah dihargai Rp 3.300 sedangkan beras berkisar Rp 7.000 per Kg. Petani semakin merugi jika sawahnya diserang hama.

"Kalau panen lagi bagus-bagusnya bisa dapat duit bersih Rp 12 sampai Rp 15 juta. Pas kena apesnya kadang modal saja tidak balik. Dulu penghasilan petani lumayan besar, menjanjikan begitu," kata dia.

Hal senada diungkapkan Samali (52) warga Talang Reja, Kecamatan Muara Telang, Banyuasin. Samali mengeluhkan layanan Bulog saat petani menjual hasil panennya. Alhasil, petani memilih tengkulak meski harganya jauh lebih murah.

"Bulog di sini ada tapi tidak jalan, mau jual ke sana dicuekin, petugasnya jarang datang. Kalau tengkulak setiap saat melayani," sambungnya.

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Tri Agustin Satriani mengatakan, Provinsi Sumsel merupakan salah satu daerah terbesar penyumbang kebutuhan pangan nasional. Untuk harga eceran tertinggi (HET), pemerintah menetapkan Rp 3.700 per kg gabah kering giling. Biasanya, Bulog membeli langsung kepada petani.

"Disiapkan Bulog biar memudahkan petani jual hasil panen," kata dia.(mdk/lia)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.