Perjuangan puitik anak muda memompa seni rupa di Banyumas
Perjuangan puitik anak muda meriuhkan seni rupa di Banyumas. Di satu sisi, aktivitas seni rupa di Banyumas yang pernah tersohor di wilayah Sokaraja sebagai galeri lukisan terpanjang se-Asia Tenggara tinggal puing-puing sejarah.
Bogi Pranata (28) lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga seniman. Naluri seni mulai menggelayuti benaknya ketika melihat sang ayah, Seno Adji Widodo, menyapukan kuas dibasahi cat serta mengguratkan garis di atas kanvas.
Tahun 2008, Bogi meninggalkan kampung halamannya di Kabupaten Banyumas untuk mendalami pengetahuan seni rupa. Ia menempuh studi pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Saraswati S Praba (25) juga punya latar belakang riwayat serupa dengan Bogi Pranata. Ayahnya, Hadi Wijaya dikenal luas sebagai Koordinator Sanggar Bambu Jawa Tengah juga pelukis dengan kecenderungan panoramik dalam karya-karyanya.
Praba meninggalkan kampung halamannya di Kabupaten Banyumas pada tahun 2011. Ia melanjutkan studi pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Belakangan Bogi dan Praba pulang kampung ke Banyumas dan sama-sama digelayuti semangat menggeliatkan aktivitas seni rupa di kampung halaman. Kondisi seni rupa di Banyumas memang tengah mati suri.
Di satu sisi, aktivitas seni rupa di Banyumas yang pernah tersohor di wilayah Sokaraja sebagai galeri lukisan terpanjang se-Asia Tenggara tinggal puing-puing sejarah. Sementara itu di sisi lain, aktivitas pameran seni rupa tak lagi terdengar keriuhannya selama 5 tahun terakhir.
Kecil-kecilan berupaya menggeliatkan seni rupa di wilayah Banyumas, Praba di kediamannya di daerah Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan berkegiatan seni di studio kreatif 'I'm Studying Art'. Bersama komunitas Gemading yang mayoritas alumnus UNY, ia mengenalkan seni rupa pada anak-anak di usia belia.
Di kediamannya, anak-anak berlatih melukis di media yang bersifat fungsional semacam tas jinjing atau dompet. Sedang Bogi bersama komunitas Pratima yang berisi alumnus Unnes mendekatkan seni ke ruang-ruang populer di Banyumas.
Kedai-kedai kopi yang tengah menjamur jadi semacam art space untuk berpameran karya mulai dari lukisan, mural sampai seni instalasi. Semua kegiatan seni rupa itu, mereka perjuangkan dengan dana swadaya.
Pada Sabtu (18/8) sampai Jumat (24/8), komunitas Pratima dan Gemading bergandeng tangan menggelar pameran seni rupa bertajuk 'Mumpung Merdeka'. Melalui pameran tersebut yang dikonsep kurang lebih 3 bulan, dihadirkan kurang lebih 30 perupa dari Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara. Tema utama yang hendak dihadirkan adalah refleksi untuk kembali memaknai kemerdekaan sebagai bangsa sekaligus irama kebebasan berkesenian.
"Pameran ini setidaknya bisa jadi ajang bagi kami untuk saling mengenal seniman di Banyumas baik pribadi maupun karyanya. Perayaan kemerdekaan RI kami jadikan momen," ujar Bogi di sela-sela pameran Mumpung Merdeka yang digelar di Pendopo Wakil Bupati Banyumas ini.
Di pameran tersebut, lukisan karya Bogi bertajuk 'Tu me manques atau Aku Merindukanmu' (acrylic di atas kanvas, 100 x 100 cm, 2018) bersanding dengan karya adiknya, Fatkhi Galih Pamugar bertajuk 'Riders On The Storm' (cetak saring di atas kertas, 53 x67 cm, 2017). Di deretan karya keduanya, juga dipamerekan lukisan sang ayah, 'Fasilitas dan Melayang' (acrylic di atas kanvas, 40 x 55 cm dua panel, 2017).
Begitu juga karya Praba bertajuk 'Waktu Merdekaku' (diorama 8 panel- cat air di atas kertas, 100 x 70 cm, 2018) bersanding dengan karya ayahnya, 'Greget Kamardikan' (acrylic di tas kanvas, 100 x 100). Menanggapi karya-karya tersebut, Bogi bergurau, sebagai bentuk lain dari potret keluarga yang merekam imajinasi dua generasi di Banyumas.
Di pameran ini, juga digelar workshop seni rupa yang bermuatan edukasi seni bagi pelajar-pelajar di Banyumas. Praba dan Bayu Prasetyo Aji yang beraktivitas di Gemading, memandu puluhan pelajar mengekspresikan warna di media topeng kertas. Selain sebagai perupa, Praba dan Bayu juga berprofesi sebagai guru kesenian di sekolah menengah atas.
"Selama ini para siswa belajar kesenian di sekolah saja. Workshop di tengah pameran karya seni rupa ini, agar para pelajar mendapat gambaran tentang beragamnya seni rupa," kata Praba.
Di pameran 'Mumpung Merdeka' corak yang nampak kental memang mengedepankan pluralitas karya. Hadi Wijaya (Banyumas) misalnya lewat lukisannya 'Greget Kamardikan' mengangkat nilai tradisi dalam Cowongan sebagai bagian ritus kesuburan di Banyumas. Cowongan kata Hadiwijaya jadi ekpresi rakyat di tengah ancaman kekeringan ketika kemarau panjang melanda lahan-lahan pertanian.
Sedang Anjrah (Banyumas) lewat 'Mutasi DNA' (digital imagine, 2018) melakukan penggunaan teks sebagai bahasa ekpresi dalam berkarya untuk memaknai kemerdekaan. Ia juga mengetengahkan figur petani yang komikal memegang cangkul mini layaknya sumpit, sedang ember berisi sawah dan kerbau mendefamiliarisasi yang akrab, mendistansiasi yang dekat. Efeknya sawah yang dekat dengan kultur agraris terasa asing, sebab dipasangkan begitu saja dengan ember dari latar kultur industri.
Pelapisan makna dalam ekpresi estetik seni rupa juga terlihat dari lukisan Daryono Yunani yang memamerkan 'Petruk dadi Asu' (Oil on Canvas, 130 x 95 cm, 2013). Rupa wayang dalam lukisan adalah elemen-elemen tradisi Jawa yang ditampilkan dengan persepsi untuk mencibir, mengkritik dan mengingatkan perilaku elite politik.
Petruk dikatakan oleh Daryono Yuyani sesungguhnya adalah orang kecil, abdi yang mengedepankan kesetiaan dan kejujuran. Tetapi ketika ia berspekulasi untuk mengubah nasibnya dengan memasuki panggung politik maka hanya membual tentang cintanya pada rakyat dan bangsa.
"Siapapun Petruk yang terobsesi pada kekuasaan, memendam pamrih dalam benak untuk memperoleh keuntungan dari kedudukan," kata Daryono menerangkan karyanya.
Sedang ketua komunitas Pratima, Irvan Bahri lewat 'Rame-rame Nitik Perjuangan' (2018) melakukan pendekatan menerakan malam pada kain. Elemen garis di dalam karya Ivan, bisa dimaknai bahwa membatik bisa jadi medium artistik mempertahankan warisan akar budaya leluhur yang khas nusantara.
Ivan mengangkat momen kesemarakan perayaan kemerdekaan lewat lomba panjat pinang, masing-masing peserta mesti bergotong royong dan berpeluh keringat menjadi tangga hidup untuk tumpuan menuju pucuk batang pinang merebut bendera merah putih.
Memandang berbagai karya dalam pameran Mumpung Merdeka yang diinisiasi oleh komunitas seni rupa Pratima dan Gemading, terasa adanya keleluasaan memberi ruang kebebasan berkarya sebagai cerminan kebebasan berekspresi. 30 karya rupa yang dipamerkan, adalah perenungan berbagai seniman bagaimana memaknai kemerdekaan.
Masing-masing seniman tentu memiliki argumentasi tersendiri, berdasarkan latar budaya dan disiplin pengetahuan, tentu pula daya cerap terhadap lingkungan. Benang merah kemerdekaan adalah tetap memperjuangkan kebebasan meski kondisi sosial dan politik acapkali tidak menentu, itulah tata nilai yang jadi kekayaan estetik sekaligus perjuangan puitik di pameran Mumpung Merdeka.
Baca juga:
Melihat karya seni para maestro koleksi Istana Kepresidenan
Di tangan seniman Cirebon ini, batang korek jadi manusia mini nan unik
Mengunjungi pameran 'Seni Rupa 20 Tahun Setelah Reformasi'
Lukis wajah di Bali yang digemari wisatawan Australia hingga Eropa
Demi modal nikah, seniman pantomim ini ngamen di CFD
Melihat serunya pertunjukan Ventriloquist Indonesia
Membangkitkan kembali budaya Panji