LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Perjuangan petani ajak warga berkebun tanpa membakar hutan

Mayoritas petani di Sumatera Selatan (Sumsel), memiliki kebiasaan membuka lahan untuk berkebun dengan cara membakar. Selain mudah dan murah, cara itu dianggap sebagai pupuk alami buat penyubur tanah.

2017-05-11 13:51:20
Kebakaran Hutan
Advertisement

Mayoritas petani di Sumatera Selatan (Sumsel), memiliki kebiasaan membuka lahan untuk berkebun dengan cara membakar. Selain mudah dan murah, cara itu dianggap sebagai pupuk alami buat penyubur tanah.

Namun, kebiasaan itu berbalik arah dengan dilakukan seorang pria asal Desa Banyu Biru, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel. Dia adalah Jeni, seorang petani yang kini berusia 41 tahun.

Sadar dengan dampak kebakaran hutan dan lahan, Jeni berusaha mencari cara baru agar lebih efektif dan tidak menimbulkan banyak kerugian. Dia merasa prihatin terhadap kebiasaan warga yang telah ada turun-temurun dari nenek moyang.

"Membakar memang murah dan dan mudah. Padahal, tanah bisa kering dan kering, ujung-ujungnya mudah terbakar, asap di mana-mana bikin anak-anak kita sakit," ungkap Jeni kepada merdeka.com, Kamis (11/5).

Belajar dari pengalaman otodidak ditambah pengetahuan dari seseorang, beberapa tahun terakhir Jeni mencoba metode baru. Dia mengganti cara bakar dengan menggunakan herbisida atau bahan penyiang gulma dan larutan bakteri dekomposer. Teknik itu sebenarnya sudah lama dikenal dalam dunia pertanian.

Herbisida berfungsi sebagai pembunuh gulma, membantu tanah menjadi gembira, dan selanjutnya akan berproses menjadi unsur hara. Begitu gulma mati, lahan dibiarkan selama dua pekan dan barulah disemprotkan dengan larutan bakteri dekomposer untuk mempercepat proses pengomposan gulma.

Larutan bakteri dekomposer ini berguna untuk mengurai bahan organik secara alami di dalam tanah. Sisa-sisa tanaman pengganggu menjadi lapuk secara alamiah, dan tanah dapat mulai dibajak tanpa melalui proses bakar.

"Saya telah mencobanya dan berhasil. Memang butuh waktu lebih lama ketimbang membakar," ujarnya.

Melihat keberhasilan itu, dia mencoba mengajak warga di kampung untuk mengikuti jejaknya. Namun, ajakan itu justru direspon dengan cemoohan dan intimidasi oleh warga sekampung.

"Saya dikira orang mau merusak kebun, menghalangi orang-orang cari duit buat makan. Saya maklum karena mereka belum tahu caranya," kata dia.

Jeni tetap berjuang dan berkomitmen dalam tujuannya. Lagi-lagi, dia menjadi bulan-bulanan warga kampung, dia diusir dan dibunuh warga.

"Saya mau diusir dan diancam dibunuh warga. Tapi tetap saja jelaskan metode saya ini bagus, tidak merusak tanah," tuturnya.

Berkat kesabarannya, Jeni mulai berhasil mengajak para petani mengikuti metodenya. Paling tidak, saat ini telah ada 400-an petani tergabung dalam tujuh kelompok tani yang menikmati usahanya.

"Saya sendiri jadi salah satu ketua kelompok Barokah Sri Rejeki sebagai mitra pemasok Asia Pulp & Paper, ada 127 hektar lahan yang kami garap," terangnya.

Dia berharap, petani lain di Indonesia turut menjaga lingkungan dengan cara berkebun tanpa membakar. Sudah cukup anak-anak merasakan dampak negatif adanya asap sehingga mengganggu aktivitas mereka, seperti bermain dan sekolah.

"Kalau mau pasti bisa. Kita berusaha mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih baik, toh hasilnya kita sendiri yang menikmatinya," pungkasnya.(mdk/ang)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.