Perjuangan Kariasih, siswi SMK di Karangasem jalan 3 jam ke sekolah
Perjuangan Kariasih, siswi SMK di Karangasem jalan 3 jam ke sekolah. Demi mewujudkan impiannya menjadi petani sukses, dia harus berjalan kaki sepanjang 30 kilometer.
Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei, diperingati beragam setiap sekolah maupun instansi pemerintah. Seperti dilakukan para pegiat literasi dengan membawa buku-buku dalam mobil angkutan kota (angkot), bemo, gubuk, hingga motor jualan cireng menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/5).
Sayangnya, ketimpangan pendidikan di tanah air selalu terkuak saat memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tengok saja potret pendidikan di Kabupaten Buleleng, Bali. Meski, bergelimang dolar karena turis yang terbius dengan wisatanya, ternyata masih ada anak didik yang harus berjuang dengan maut demi untuk bisa bersekolah.
Padahal Kabupaten Buleleng menjadi salah satu daerah berjulukan kota pendidikan. Cukup miris jika melihat sejak tahun 1984 siswa di SDN 5 Ringdikit di Buleleng, untuk ke sekolah harus melewati derasnya arus sungai selebar 30 meter.
Namun baru tahun 2017 diketahui pemerintah Provinsi Bali dan kini dibuatkan jembatan darurat. Tidak hanya itu, satu lagi seorang siswi Nyoman Kariasih (18) asal Desa Trunyan harus melintasi hutan perbukitan menuju tempatnya bersekolah di SMK Toya Anyar Kubu Karangasem.
Hebatnya putri ketiga dari pasangan I Ketut Sirat (alm) dan Ni Ketut Citra (60), tidak pernah berkuluh soal kemiskinan. Demi mewujudkan impiannya menjadi petani sukses, dia harus berjalan kaki sepanjang 30 kilometer.
"Terkadang saat hujan, saya harus terlambat ke sekolah. Saya tidak mau jadi orang bodoh, saya harus tetap sekolah," kata Kariasih, Selasa (2/5).
Semangat Kariasih, mungkin satu dari ratusan siswa yang bernasib sama di tanah air ini. Demi bersekolah harus menempuh perjalanan hampir 3 jam.
"Kalau ke sekolah bangun pagi jam 4. Berangkat sebelum setengah 5. Pulang sekolah sambil buat PR juga jualan jajan gorengan," akunya.
Kini kendala untuk membayar sekolah sudah tidak lagi jadi beban Kariasih. Itu setelah pihak Yayasan bersama PT. Blue Bird Grup, melihat kegigihannya dan memberikan beasiswa.
Bahkan di hari ulang tahun ke 45 perusahaan armada Taxi ini mengundangnya secara khusus untuk diberikan hadiah berupa Laptop.
"Ini bagian dari tali kasih kami. Semangat adik kita ini patut kita jadikan contoh. Semangatnya mengejar impian ditengah kemiskinan keluarga, dia berjuang untuk harus sekolah. Inilah pentingnya untuk berbagi dan saling membantu, tidak perlu kaya untuk berbagi demi membantu masyarakat," ungkap General Manager BBG Area Bali-Lombok Putu Gede Panca Wiadnyana, di Denpasar Bali, Selasa (2/5).
Pada kesempatan ini santunan juga diberikan kepada Gusti Ketut Arya Subakti (9) siswa kelas 2 SD di Dusun Ideran, Desa Kayuputih, Kecamatan Sukasada, Buleleng di Bali.
Bocah pria ini seperti yang pernah ditulis Merdeka.com, tanpa memiliki tangan kanan dan kedua kaki. Bakatnya sebagai pelukis ciliki membuat PT.Blue Bird Grub di Bali merasa terpanggil untuk memberikan beasiswa sekolah serta alat lukis lengkap. Bahkan keinginan bocah ini memiliki kursi roda remote juga bakal dipenuhi.
Baca juga:
Peringati Hardiknas, pegiat literasi pajang buku di halaman Istana
Absen upacara Hari Pendidikan, Ahok pilih terima keluhan warga
Kampanye di Balekambang, Ahok dapat aduan KJP tak kunjung cair
Peringati Hardiknas, Kostrad kibarkan bendera raksasa di Tanah Papua
PDIP ingin kembangkan lagi pendidikan yang berkebudayaan
Depok dinilai belum pantas disebut kota layak anak
Gara-gara posting dugaan pungli di sekolah, guru honorer dipecat