Peresmian Kelenteng Ji Li Gong, Simbol Kuat Kerukunan Umat Beragama Makassar
Pemerintah Kota Makassar meresmikan Kelenteng Ji Li Gong sebagai penanda kuatnya Kerukunan Umat Beragama Makassar. Wali Kota berharap rumah ibadah ini memperkokoh persaudaraan dan membina generasi muda, sekaligus menjadi pusat kegiatan sosial yang bermanf
Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan, secara resmi meresmikan Kelenteng Ji Li Gong pada Minggu, 07 Juni. Peresmian ini menandai bertambahnya satu lagi rumah ibadah yang diharapkan menjadi simbol kerukunan umat beragama di kota tersebut. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, hadir langsung dalam acara peresmian yang berlangsung khidmat.
Acara peresmian ditandai dengan pengguntingan pita, sebuah simbolis yang dilakukan oleh Wali Kota Makassar bersama Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan, Aminuddin, serta Pimpinan Yayasan Dewa Makmur Sentosa, Lie Ming Sen. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan dukungan kolektif terhadap upaya menjaga harmoni di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Munafri Arifuddin menyampaikan apresiasi tinggi atas pendirian kelenteng ini, yang dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkokoh kehidupan beragama yang harmonis. Ia menekankan pentingnya rumah ibadah sebagai ruang persaudaraan dan penjaga kerukunan di tengah masyarakat heterogen.
Peran Rumah Ibadah dalam Memperkuat Persaudaraan
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa kehadiran rumah ibadah bukan sekadar tempat untuk menjalankan ritual keagamaan semata. Lebih dari itu, rumah ibadah harus berfungsi sebagai pusat yang memperkuat tali persaudaraan antarumat beragama. Hal ini penting untuk menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Makassar.
Munafri mengapresiasi berdirinya Kelenteng Ji Li Gong sebagai bagian dari upaya nyata memperkokoh kehidupan beragama yang harmonis di kota ini. Ia melihat peresmian ini sebagai momen baik di tengah-tengah kerukunan umat beragama yang telah terjalin. Keberadaan kelenteng ini diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa kerja sama seluruh elemen masyarakat, baik lintas etnis maupun agama, telah membawa peningkatan signifikan terhadap indeks toleransi Kota Makassar. Pencapaian ini menunjukkan kemampuan kota dalam menjaga keragaman dan membangun toleransi. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk hidup berdampingan dalam setiap perbedaan.
Membina Generasi Muda dan Menjaga Toleransi di Makassar
Selain sebagai tempat ibadah, Munafri Arifuddin berharap Kelenteng Ji Li Gong dapat berkontribusi aktif dalam pembinaan karakter generasi muda. Di tengah derasnya arus digitalisasi, pendidikan spiritual menjadi benteng penting. Ini diperlukan untuk membangun generasi yang cerdas sekaligus memiliki akhlak mulia.
Wali Kota menekankan bahwa rumah ibadah memiliki peran vital dalam membentuk generasi yang baik dan berakhlak. Ia berharap kelenteng ini dapat menjadi wadah untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada kaum muda. Dengan demikian, mereka akan siap menghadapi tantangan zaman.
Capaian toleransi Kota Makassar yang tinggi merupakan hasil dari kerja sama yang baik antara seluruh elemen masyarakat. Ini menunjukkan bagaimana kota ini mampu menjaga keragaman dan membangun toleransi. Masyarakat dapat hidup berdampingan secara harmonis meskipun memiliki latar belakang berbeda.
Kelenteng sebagai Pusat Kegiatan Sosial dan Kepedulian
Munafri Arifuddin juga mengingatkan agar keberadaan rumah ibadah tidak hanya memberikan manfaat bagi umat yang beribadah di dalamnya. Namun, juga harus menghadirkan kepedulian yang luas bagi masyarakat sekitar. Kelenteng Ji Li Gong diharapkan mampu menjadi pusat kegiatan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Ia berharap kelenteng ini dapat menjadi lebih dari sekadar bangunan fisik untuk beribadah. Lebih jauh, ia berharap kelenteng ini dapat menjadi sesuatu yang berarti bagi masyarakat di sekitarnya. Ini termasuk melalui berbagai program sosial dan kemasyarakatan.
Keberagaman yang dimiliki Kota Makassar harus menjadi kekuatan bersama dalam membangun kota, bukan menjadi sumber perbedaan yang memisahkan. Dengan demikian, Kelenteng Ji Li Gong diharapkan dapat menjadi contoh nyata. Ini menunjukkan bagaimana rumah ibadah dapat berkontribusi pada kemajuan sosial dan kerukunan.
Sumber: AntaraNews