LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Perempuan dalam gerakan terorisme dipengaruhi faktor loyalitas kepada suami

Perempuan dalam gerakan terorisme dipengaruhi faktor loyalitas kepada suami. Sebelum menjadi peran sentral dalam aksi teror, teroris perempuan berperan sebagai perekrut. Mereka mengajak orang menjadi pengantin bom bunuh diri.

2018-05-15 22:46:28
Terorisme
Advertisement

Bom yang meledak di Surabaya dalam dua hari terakhir yaitu pada Minggu (13/5) dan Senin (15/5) tak hanya melibatkan teroris laki-laki, tetapi juga perempuan. Bahkan saat aksi bom bunuh diri di gereja, seorang ibu meledakkan diri bersama dengan dua orang anak perempuannya.

Keterlibatan perempuan dalam aksi teror ini mengagetkan publik. Namun menurut Direktur The Wahid Institute, Yenny Wahid, perempuan telah masuk jaringan teroris sejak lama. Ia menyebut istri Noordin M Top juga sangat aktif membantu suaminya mempersiapkan aksi teror.

"Sekarang kita terkaget-kaget perempuan bisa direkrut. Perempuan masuk dalam jaringan teroris sudah lama," jelasnya dalam diskusi di Kantor The Wahid Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).

Advertisement

Hanya saja kali ini perempuan yang terlibat terorisme ini berperan langsung di garda terdepan sebagai pengantin bom bunuh diri. "Perannya langsung di depan atau central stage," ujarnya.

Sebelum menjadi peran sentral dalam aksi teror, teroris perempuan berperan sebagai perekrut. Mereka mengajak orang menjadi pengantin bom bunuh diri.

"Perempuan bisa jadi agen rekrutmen yang begitu canggih dan jadi fund raiser (pencari dana) dan logistic organizer. Kalau mau melakukan penyerangan mereka yang sewa mobil atau motor, beli ini itu dan bisa juga beli bahan-bahan bom dan keempat baru jadi eksekutif. Semua bisa dimainkan perempuan," jelasnya.

Advertisement

Masuknya perempuan dalam gerakan terorisme ini juga dipengaruhi faktor loyalitas kepada suami. Loyalitas ini kemudian yang dieksploitasi para lelaki radikal. Perempuan yang tak memiliki independensi dan otonomi dalam pengambilan keputusan gampang terpapar gerakan radikal.

"Perempuan yang tidak independen dan tidak memiliki otonomi dimana dalam pengambilan keputusan tergantung suami lebih mudah diradikalisasi. Istrinya tak mau membantah karena patuh sama suami," jelasnya.

"Semakin independen perempuan dalam pengambilan keputusan menyangkut dirinya dan tidak hanya mengikuti kata suami semakin dia punya kemampuan jadi bumper jika suatu saat suami mengajaknya jadi radikal. Independensi perempuan mutlak dalam hal ini," lanjutnya.

Baca juga:
Bocah perempuan selamat dalam serangan bom di Polrestabes Surabaya
Polisi segera makamkan jenazah teroris surabaya yang tak diambil keluarga
Densus 88 kembali tangkap istri terduga teroris di Surabaya
Peran intelijen harus ditingkatkan untuk cegah aksi teror
Terduga teroris yang tertangkap di Urangagung Sidoarjo miliki identitas ganda?

(mdk/eko)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.