Penjelasan BNPB soal Alat Peringatan Dini Longsor di Bangli Tak Berfungsi Optimal
Sebagai informasi, Kecamatan Bangli termasuk wilayah dengan potensi bahaya tanah longsor kategori sedang hingga tinggi. Berdasarkan analisis inaRISK, sebanyak 4 kecamatan berada pada potensi tersebut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengecek efektivitas alat peringatan dini longsor berbasis masyarakat yang dipasang di wilayah Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Alat ini telah terpasang sejak lima tahun lalu, tepatnya di Desa Batu Dinding, Kecamatan Kintamani, yang memiliki potensi tanah longsor dengan kategori sedang hingga tinggi.
Pada saat pengecekan, tim BNPB menemukan beberapa faktor peralatan tidak berfungsi secara optimal. Temuan ini akan dievaluasi secara bersama antara BNPB dan Universitas Gadjah Mada, yang mengembangkan perangkat bagian dari sistem peringatan dini tanah longsor atau landslide early warning system (LEWS).
"Faktor penyebab teridentifikasi pada kondisi teknis alat dan faktor alam," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari melalui siaran pers, Rabu (19/8).
Tim BNPB menemukan adanya kendala baterai yang sudah habis sehingga alat sensor tidak berfungsi. Selain itu, ditemukan kendala hama semut menyebabkan malfungsi sensor tersebut.
Adapun kondisi alam yang menyebabkan alat peringatan dini longsor tidak berfungsi optimal seperti tanah yang tergerus aliran sungai. Kondisi ini merusak ekstensometer yang terpasang di dekat bantaran sungai.
"Pengecekan alat peringatan dini tanah longsor dilakukan sebagai bahan evaluasi dan masukan dalam penyusunan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI)," sambungnya.
Usai melakukan pengecekan efektivitas alat peringatan dini longsor, tim BNPB bertemu Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta. Nyoman Sedana berharap penyusunan RSNI alat peringatan dini longsor berbasis masyarakat dapat menghasilkan SNI efektif untuk menyelamatkan jiwa masyarakat yang terpapar potensi bahaya tanah longsor di wilayahnya.
"Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan produk SNI yang dapat memberikan informasi secepat mungkin kepada masyarakat yang berpotensi terdampak longsor, di mana di Kabupaten Bangli sendiri sudah terjadi dua kali longsor di tahun 2021 ini," ujarnya.
Plt. Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Mohd. Robi Amri menambahkan bahwa pada tahun 2022 Provinsi Bali akan menjadi tuan rumah Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022. Kegiatan internasional ini akan dihadiri perwakilan dari 162 negara anggota.
"Salah satu tujuan field trip yang direncanakan adalah kunjungan pada wilayah yang terpasang alat peringatan dini longsor di wilayah Kintamani dan kunjungan ke Museum Batur," jelas Robi.
Dia berharap momen GPDRR bisa menjadi kesempatan untuk mempromosikan Kabupaten Bangli kepada komunitas internasional, khususnya dalam konteks pengurangan risiko bencana tanah longsor.
Sebagai informasi, Kecamatan Bangli termasuk wilayah dengan potensi bahaya tanah longsor kategori sedang hingga tinggi. Berdasarkan analisis inaRISK, sebanyak 4 kecamatan berada pada potensi tersebut. Pada 9 Februari 2017 lalu, tanah longsor yang terjadi di kabupaten ini mengakibatkan 13 warga meninggal dunia dan 8 lainnya luka-luka, serta 5 unit rumah rusak.
Baca juga:
Hujan Lebat Sebabkan Banjir dan Longsor di Jepang
Banjir dan Longsor Landa Aceh Besar, 412 Warga Mengungsi
Banjir Bandang dan Longsor Terjang Dua Desa di Cigudeg Bogor
Tanah Longsor di Tarakan, Seorang Warga Meninggal Dunia
Sebut Tambang Galian C Picu Longsor di Rumpin, Bupati Bogor Minta Warga Direlokasi