Pengungsi Gempa Bumi di Pasaman Mulai Idap ISPA dan Asam Lambung
Para pengungsi mengidap ISPA akibat masalah cuaca, karena lingkungan yang baru dan mereka baru menyesuaikan. Setelah itu, korban gempa bumi itu terlambat makan setelah gempa bumi melanda daerah itu dan kondisi masih trauma.
Korban gempa bumi asal Malampah, Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat yang mengungsi ke Padang Tarok, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, banyak mengidap penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan asam lambung. Dokter telah melayani 150 orang warga di posko Padang Tarok, Nagari Salareh Aia.
"Paling banyak mereka mengidap penyakit ISPA dan asam lambung," kata Dokter umum posko di Padang Tarok, dr Diki Sarya Prayoga di Lubukbasung, Senin (28/2).
Dia mengatakan, para pengungsi mengidap ISPA akibat masalah cuaca, karena lingkungan yang baru dan mereka baru menyesuaikan. Setelah itu, korban gempa bumi itu terlambat makan setelah gempa bumi melanda daerah itu dan kondisi masih trauma.
"Pada umumnya mereka makan siang pada sore hari pascagempa melanda daerah itu dan persediaan makan belum ada," kata dia, dilansir Antara.
Persediaan Obat Cukup
Dia menambahkan, mereka sudah diberi obat dan vitamin. Satu warga dirujuk ke Puskesmas Kayu Pasak akibat suhu tubuh cukup tinggi semenjak dua hari lalu. Namun hasil tes antigen dari pasien tersebut negatif Covid-19.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Agam, Hendri Rusdian menambahkan persediaan obat-obatan di pusat pelayanan di posko itu sangat cukup.
"Obat-obatan ISPA dan asam lambung cukup dan penyakit tidak spesifik," kata Hendri.
Dinas Kesehatan Agam menyiapkan lima petugas kesehatan yang berasal dari dokter umum satu orang, bidang dua orang dan perawat dua orang di posko. Pelayanan itu dibuka selama 24 jam dan petugas dibagi tiga kelompok selama 24 jam.
(mdk/gil)