Pengidap tumor ganas meninggal, RSHS bantah lalai
Menurut pihak RSHS, untuk melakukan tindak operasi, pasien harus melalui beberapa tahap pemeriksaan.
Ny Ayoh meninggal dunia pada hari Senin (14/6) lalu karena diduga lambannya penanganan medis oleh pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Karenanya, LSM Peduli Rakyat Miskin yang datang ke Gedung Sate Bandung Senin (25/6) siang meminta pemerintah membentuk tim investigasi tentang pelayanan RSHS.
Namun pihak RSHS membantah telah menelantarkan Ayoh hingga mengakibatkannya meninggal dunia. Menurut pihak RSHS, mereka selalu memberikan pelayanan terbaik bagi pasien, siapa pun itu.
"Untuk Ayoh, itu tidak ada unsur kelalaian. Mungkin ini hanya masalah miscommunication saja, karena kami pun sudah meminta Ayoh untuk kembali datang ke RSHS," kata Direktur Umum dan Operasional RSUP Hasan Sadikin Edi Sampurno, di Bandung, Senin (25/6).
Dia menyatakan untuk melakukan tindak operasi, pasien harus melalui beberapa tahap pemeriksaan. Itu dilakukan untuk pemetaan dari berbagai disiplin ilmu.
"Memang tidak bisa pasien itu ketika datang ke RSHS langsung dilakukan operasi," tandasnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Alma Lucyati menuturkan kasus Ny Ayoh yang meninggal dunia akan dijadikan pelajaran bagi dinas kesehatan. "Kita ga tahu dari awalnya, tapi ini harus jadi pembelajaran," katanya.
Dalam hal ini, dia juga mengatakan bahwa tidak ada yang bisa dibenarkan dan disalahkan, tapi semua harus belajar dari pengalaman.
Ayoh mengidap suspek tumor ganas ovarium pada bagian perut sejak 2007. Akibat penyakitnya itu, perut Ayoh membesar hingga berat perutnya diperkirakan mencapai 20 kilogram.
Warga Kampung Sidodadi RT 33 RW 11, Kelurahan Pasirkareumbi, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang tersebut meninggal di RS Ciereng. Sebelumnya Ayoh sudah bulak-balik Bandung - Subang untuk pemeriksaan. Tapi Ayoh tak kunjung dioperasi.
(mdk/ren)