Penghuni panti asuhan Tunas Bangsa disuruh ngemis demi dapat makan
Syarifudin juga menyayangkan penghuni panti tersebut yang pada awalnya normal menjadi gila lantaran kondisi tempat yang tidak manusiawi.
Penghuni Panti Asuhan Yayasan Tunas Bangsa Pekanbaru diperlakukan tidak manusiawi. Selain tempat mereka bernaung tidak bersih, mereka juga disuruh jadi pengemis untuk mendapatkan makanan dari pengurus panti. Selain itu, jadwal makan penghuni panti juga tak menentu, terkadang mereka makan satu kali sehari.
"Informasinya penghuni panti disuruh jadi pengemis. Makanan yang diberikan tidak steril, tempat mereka tidur juga dijadikan tempat buang kotoran, makanan mereka juga bekas makanan tikus," ujar Kepala Dinas Sosial Propinsi Riau, Syarifuddin kepada merdeka.com Senin (30/1).
Syarifudin juga menyayangkan penghuni panti tersebut yang pada awalnya normal menjadi gila lantaran kondisi tempat yang tidak manusiawi. Bahkan, panti asuhan itu tidak memiliki izin sejak tahun 2015.
"Ada penghuni yang menjadi gangguan jiwa karena kondisi panti yang centang prenang (tidak beres) dan berantakan. Di situ tempat makan, buang kotoran dan tempat tidur," kata Syarifudin.
Syarifudin meminta kepolisian untuk terus mengusut kasus kematian Zikli dan dugaan adanya eksploitasi anak dan orang dewasa. Sebab, ada informasi mereka dijual dan diperlakukan tidak manusiawi oleh pengelola panti.
Penghuni panti dengan terpaksa melakukan apa yang disuruh pengelola panti itu demi mendapat makanan dari pengurus panti. Namun, makanan mereka pun tidak steril seperti susu kedaluarsa dan makanan lain yang tidak disimpan dalam tempat yang tertutup.
"Makanya itu, adanya informasi dijadikan pengemis itu perlu diusut polisi. Kita minta kepada polisi untuk mengusut kasus pidana yang terjadi di panti itu serta kasus eksploitasi. Kan ada undang-undang perlindungan anak serta undang-undang perdagangan orang, itu yang harus diusut sampai tuntas," kata Syarifudin.
Pihaknya bersama polisi juga sudah menutup dan menyegel serta memasang garis polisi atau police Line yayasan panti karena tidak memiliki izin. Di panti sosial, Syarifudin sudah mengevakuasi orang anak-anak dari panti Tunas Bangsa.
"5 Orang anak sudah kita evakuasi ke Rumah Aman, dan didampingi pekerja sosial. Kondisinya anak-anak mengidap penyakit disentri (mencret). Saat kita evakuasi, ada anak yang demam, kembung dan penyakit lainnya karena kondisi panti itu tidak steril," ucapnya.
Kini, penghuni Panti Asuhan lainnya tersebut sudah dievakuasi oleh Unit PPA Polresta Pekanbaru bersama Dinas Sosial Riau dan Lembaga Perlindungan Anak Riau dari tempat tersebut ke Rumah Aman untuk anak-anak dan ke Rumah Sakit Jiwa bagi yang mengalami gangguan jiwa.
Selain itu, Tim juga menyisir panti lanjut usia cabang dari Panti Asuhan Tunas Bangsa itu di jalan Cendrawasih gang Nuri kota Pekanbaru. Hasilnya, 13 Lansia ditemukan dengan kondisi memprihatinkan.
(mdk/ded)