Penggagas seni Genye sebut karyanya bukan bentuk menyembah setan
Sang pencetus, Deden, menyatakan keseniannya sarat dengan falsafah agama.
Purwakarta kini sedang dihangatkan oleh kontroversi kesenian Genye. Sebabnya adalah pemilik akun Twitter @Manhajusholin menyatakan tarian itu sebagai budaya iblis dan setan.
Alhasil, sang pemilik akun dilaporkan ke Mapolres Purwakarta atas cuitannya itu. Namun, mungkin belum banyak yang tahu apa itu kesenian Genye.
Seni itu digagas oleh seniman Deden Guntari Hidayat sejak 2009. Seni berupa tarian kolosal dimainkan hingga 50 orang itu, menurut dia, terinspirasi dari pernikahan sang adik di Kota Bandung.
Saat itu, Deden belum mendapat ide buat mendekorasi lokasi pernikahan adiknya. Tiba-tiba saat melintas di perempatan Jalan Buahbatu, Kota Bandung, dia melihat pedagang sapu lidi, atau dalam bahasa sunda disebut sapu nyere, yang menyediakan sapu berbagai bentuk dan warna.
"Akhirnya saya menggunakan sapu nyere itu sebagai dekorasi nikahan adik saya," kata Deden kepada wartawan, Senin (15/2).
Seiring waktu, jiwa seni Deden terus bergolak dan ingin menjadikan sapu lidi tak hanya sebagai alat bersih-bersih. Namun juga menjadi properti kesenian mempunyai daya jual. Setelah beberapa kali konsep seni dari sapu nyere mendapat penolakan, Deden pun bertemu dengan teman-teman seniman lain memiliki pemikiran sama.
"Satu waktu di Karesidenan tahun 2010, Pemkab minta ada pertunjukan seni yang khas Purwakarta. Lalu saya tawarkan dan ternyata diminati. Dari situ saya bersama teman-teman seniman lain terus berkesenian dengan sapu nyere," ujar Deden.
Kata Genye kabarnya spontan keluar dari lisan Deden sebelum pentas perdana. "Dari situlah, sampai sekarang dikenal dengan Genye atau gerakan nyere," ucap Deden.
Soal filosofi, Deden memiliki alasan mengapa menggunakan sapu lidi sebagai media penyampai pesan. Menurut dia, sapu lidi tidak cuma digunakan sebagai alat penyapu sampah. Namun dalam keseharian hidup masyarakat Sunda, alat itu mempunyai banyak kegunaan.
Seperti halnya batangan sapu nyere biasa digunakan oleh orang tua atau ustaz pada masa lalu, buat menegur anak yang malas mengaji atau salat dengan cara memukulkannya.
Selain itu, lanjut Deden, ada pula kepercayaan orang pada masa lalu, jika ada bayi baru lahir, orangtua diharuskan memukulkan sapu lidi ke berbagai penjuru rumah. Alasannya mengusir hal negatif.
"Filosofinya jadi sapu nyere bukan hanya untuk kebersihan, tapi membersihkan orang-orang yang malas, juga menjauhkan dari gangguan hal yang jelek. Apalagi sampai terpikir budaya iblis," imbuh Deden.
Seiring perjalanan waktu, seni Genye pun terus berkembang. Terakhir adalah penambahan ornamen menyerupai ondel-ondel dibuat dari sapu nyere, sapu ijuk, dan ayakan.
"Ayakan juga maknanya adalah menyaring pikiran dan menyaring apa yang masuk dalam tubuh kita," tambah Dede.
Tidak hanya itu, menurut Deden, pada seni Genye, keberadaan barisan anak-anak berlumur tanah di seluruh tubuhnya bermaksud sebagai ajang mengenalkan industri keramik khas Plered, Kabupaten Purwakarta, yang menggunakan tanah liat terbaik sebagai bahan baku utama.
"Bahwa kita yang berasal dari tanah akan kembali menjadi tanah. Jadi bukan perumpamaan tuyul anak-anak itu," imbuh Deden.
Deden mengatakan, kesenian dirintisnya itu sudah kerap tampil. Dia juga berhasil meraih berbagai penghargaan tingkat regional. Seperti dua kali juara lomba Pawai Taaruf MTQ Jabar. Sementara pada tingkat nasional tampil pada Festival Kemilau Nusantara. Dia meyakini pencapaian itu membikin kesenian Genye diakui sebagai unggulan khas Kabupaten Purwakarta.
Baca juga:
Tari Genye disebut budaya iblis, seniman Purwakarta lapor polisi