LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Pengakuan pendukung Prabowo ditembaki polisi sampai babak belur

Kapolres Jakarta Pusat yang coba mengajak dialog malah dijotos sebagian pendukung yang tak bertanggung jawab.

2014-08-28 06:01:00
Prabowo ke MK
Advertisement

Pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (21/8) lalu diwarnai kericuhan di sekitar Patung Kuda, Jakarta Pusat. Puluhan pendukung Prabowo terlibat bentrok dengan polisi yang berjaga sekitar gedung MK.

Mereka menyodok barisan polisi dengan bambu. Polisi pun mengerahkan water cannon untuk memukul mundur pendukung Prabowo. Polisi juga menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa Prabowo.

Tak cuma itu massa Prabowo mengerahkan truk Unimog untuk melindas kawat berduri. Kapolres Jakarta Pusat yang coba mengajak dialog malah dijotos sebagian pendukung yang tak bertanggung jawab.

Buntut kericuhan itu, pendukung Prabowo mengadu ke Komnas HAM. Para pendukung Prabowo memberikan keterangan kepada Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Mereka mengadukan sikap polisi yang sengaja membubarkan para demonstran dengan menggunakan gas air mata dan peluru karet. Klaim mereka, puluhan orang luka-luka.

Menanggapi laporan tersebut, Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan, akan membawa masalah ini kepada Polda Metro Jaya. Rencananya dia dan beberapa perwakilan dari Komnas HAM akan bertemu Kapolda Irjen Dwi Priyatno hari ini.

"Komnas HAM akan objektif, berimbang, tanpa memihak," janji Natalius, Senin (27/8).

Sebelumnya polisi sudah menegaskan tak ada korban luka tembak dalam kericuhan itu.

Berikut pengakuan para pendukung Prabowo luka-luka akibat polisi:

Operasi habis Rp 10 juta

Alim Sucipto yang menjabat komandan satgas relawan gardu Prabowo mengaku dirinya terkena peluru karet aparat kepolisian saat sedang berada di barisan depan.

"Saya kan mau menghalau teman-teman yang maksa masuk. Tapi tiba-tiba ada banyak suara tembakan. Saya nggak tahu gimana kejadiannya tiba-tiba pipi saya ini seperti kena timpuk. Ternyata itu peluru karet," kata Alim usai melaporkan hal itu kepada Komisaris Komnas HAM, Rabu (27/8).

Alim menceritakan, akibat peristiwa tersebut, dia terpaksa dilarikan ke rumah sakir Carolus Jakarta Pusat untuk mendapatkan pertolongan. Akibat luka di wajah, Alim harus dioperasi selama hampir empat jam.

"Saya habis sekitar Rp 10 juta sih ada. Katanya mau diganti sama pihak Prabowo," jelasnya.

Advertisement

Mengaku tak ada tembakan peringatan

Pendukung Prabowo lainnya, Muhamad Syarif, mengaku saat kejadian aparat kepolisian sengaja membidik para demonstran dengan senapan yang berisi peluru karet tanpa memberi tembakan peringatan sebelumnya.

"Jadi saya ada di depan. Tiba-tiba barikade polisi itu membuka dan ada satu anggota yang membidik ke arah saya, lalu melepaskan tembakan. Tapi itu tanpa peringatan itu langsung mengarah ke saya," jelasnya.

Selain itu, menurut Syarif selain polisi yang ada di barikade barisan, beberapa polisi yang sudah berjaga-jaga di atas gedung BUMN juga sengaja melepaskan tembakan ke arah demonstran yang ada di bawah.

"Saya lihat ada sekitar tiga polisi di atas gedung BUMN itu juga melepaskan tembakan ke bawah. Untungnya saya tidak kena," tandasnya.

Advertisement

36 Orang luka-luka

Kubu Prabowo-Hatta mengadu ke Komnas HAM terkait bentrokan massa pendukung capres nomor urut 1 itu dengan polisi pada Kamis (21/8). Pihak Prabowo menuding polisi bersikap arogan dan menyebabkan puluhan korban luka.

"Yang kami data ada 34 tetapi barusan ada tambahan 2 jadi 36 totalnya," ujar Kuasa Hukum Prabowo-Hatta Habiburrohman di Komnas HAM, Jumat (22/8).

Habib menambahkan, salah satu korban yang saat ini berada di RSPAD mengaku terkena peluru karet.

"Tangan dia bengkak luka, itu kan kena peluru karet," katanya.

Minta SBY pecat Kapolri & Kapolda

Juru Bicara Perjuangan Merah Putih, Andre Rosiade mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Komnas HAM untuk menginvestigasi kericuhan di kawasan Patung Kuda. Andre meminta Komnas HAM untuk tidak gentar dalam menyelidiki kasus ini.

"Kami meminta rekomendasi dari hasil investigasi yang dilakukan Komnas HAM diserahkan langsung kepada Presiden SBY," katanya.

Dia pun menegaskan, dalam kasus ini Kapolri Jenderal Sutarman harus bertanggung jawab penuh atas perlakuan anak buahnya terhadap relawan Prabowo-Hatta yang menjadi korban.

"Kapolri menyatakan tidak ada peluru karet padahal jelas ada saksi yang melihat anggota kepolisian menggunakan peluru karet. Dengan berbagai fakta yang ada, kepolisian sudah berbohong. Kami meminta Presiden SBY untuk memecat Kapolri dan Kapolda," tegasnya.

(mdk/ian)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.