Penerima bantuan program rumah layak huni di Kota Bogor bakal ditambah
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menggenjot jumlah penerima bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Sepanjang tahun 2017, sebanyak 2.506 rumah tidak layak huni telah disulap menjadi rumah layak huni dengan nilai anggaran mencapai Rp 21,59 miliar.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menggenjot jumlah penerima bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Sepanjang tahun 2017, sebanyak 2.506 rumah tidak layak huni telah disulap menjadi rumah layak huni dengan nilai anggaran mencapai Rp 21,59 miliar.
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menargetkan, jumlah penerima bantuan sosial RTLH di Kota Bogor pada tahun 2018 ini akan ditambah.
Bima mengatakan, sumber dana untuk bantuan rumah tidak layak huni berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan program CSR dari perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Bogor.
"Jumlahnya akan terus kita naikan. Yang jelas, saya minta pekerjaannya itu tuntas, kualitas pengerjaannya baik dan memperhatikan aspek-aspek yang terkait dengan peningkatan kualitas hidup keluarga," ucap Bima, Rabu (7/2).
Bima menuturkan, penerima program bantuan ini ditujukkan bagi masyarakat yang secara ekonomi kurang mampu dan menempati rumah dengan kondisi yang kurang layak.
Sehingga, ia memastikan, proposal yang masuk untuk permohonan perbaikan rumah akan diseleksi dan diverifikasi agar tepat sasaran.
"Setiap turun ke wilayah, saya selalu menyempatkan berkunjung ke rumah warga untuk melihat kondisi tempat tinggalnya. Sekaligus mengecek apakah program ini tepat sasaran atau tidak," kata Bima.
"Jadi secara kuantitas bertambah karena yang membutuhkan banyak, secara kualitas juga kita pastikan memenuhi standar hidup sehat warga," pungkasnya.
Baca juga:
Pemerintah tingkatkan validasi data keluarga miskin penerima bansos
Potret gizi buruk, kemiskinan dan pendidikan di Indonesia
Khofifah ingin maksimalkan peran perangkat desa atasi kemiskinan di Jatim
Gubernur sebut kebijakan Menteri Susi penyebab kemiskinan tinggi di Maluku
Penjelasan Puskesmas Mancak soal pasien dibawa ke RS pakai pikap pengangkut pasir