Penemuan orang utan albino langka di Kalteng jadi pemberitaan dunia
Banyak media internasional yang penasaran dengan ditemukannya orang utan albino dari hutan Kalteng. Saat ini kondisi orang utan yang ber-DNA 97 persen mirip manusia tersebut berangsur pulih.
Orang utan albino bergenetik langka yang ditemukan di Kalimantan Tengah, menyita perhatian media internasional. Orang utan langka itu terus menjalani treatment oleh tim medis Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Nyaru Menteng, di Kalimantan Tengah. Kondisinya dilaporkan secara umum sehat.
Dari penelusuran merdeka.com, sejumlah media asing yang memberitakan sang orang utan Albino bermata biru itu antara lain adalah ABC Australia, BBC, VOA, The Telegraph, Independent, Spiegel Online, Gizmodo hingga Daily Mail.
"Banyak media internasional yang penasaran, bertanya kepada kita tentang orang utan albino yang sedang kita tangani," kata Juru Bicara Yayasan BOS Nyaru Menteng Monterado Fridman dalam perbincangan bersama merdeka.com, Kamis (4/5).
"Sejauh ini, dari hasil observasi dan treatment, usianya benar lima tahun, dengan berat badan 8,3 kilogram yang relatif normal. Kemudian suhu badan rata-rata 37,4 derajat celsius," ujar Monterado.
Monterado menerangkan, tim medis saat ini lebih berhati-hati memberikan penangangan, lantaran albino jarang ditemukan.
"Kami pastikan dia albino. Karena dalam catatan medis, 100 persen warna kulit dan rambut adalah putih. Dia dijaga tim baby sitter, dan tim medis kami selama 24 jam ya," ujar Monterado.
"Sudah juga dilakukan tes darah, diambil sampelnya, untuk dikirim ke laboratorium. Tujuannya, untuk mengetahui sub spesiesnya. Apakah Pongo Pygmaeus Rumbii dari Kalimantan Tengah, Pongo Pygmaeus Morio di Kalimantan Timur, atau Pongo Pygmaeus Pygmaeus dari Kalimantan Barat," tambahnya.
"Dugaan kita karena dia ditemukan di Kalteng, bukan di perbatasan kedua provinsi lain, kita menduga kuat Pongo Pygmaeus Rumbii, dari Kalteng. Tapi pastinya masih menunggu hasil laboratorium 1-2 bulan ke depan," jelasnya.
Selain itu, tim medis juga memeriksa feses dan urinnya. "Feses ditemukan indikasi cacing, jadi kita duga cacingan sehingga kita beri obat cacing. Dia juga paling banyak makan tebu, yang memang dia biasa menemukannya di dalam hutan. Dia juga coba cicipi pisang, tapi lebih suka tebu," ungkapnya lagi.
"Hari ini sudah sedikit lebih lincah. Mungkin waktu itu stres dan trauma karena sempat dibawa ke kampung minum susu cukup banyak karena suka dengan susu. Per hari ini, membaik, pergerakannya semakin tinggi dari hari sebelumnya," beber Monteradom.
"Tapi kita jaga kebanyakan susu bisa diare, kebanyakan tebu, bisa risiko untuk giginya. Fesesnya hari ini bagus, mulai padat. Secara umum, orang utan albino ini, bisa dikarakan sehat. Yang jelas, pemberian susu dibatasi, atas keputusan tim medis," demikian Monterado.
Orang utan albino ditemukan secara tak sengaja oleh warga Desa Tanggirang, Sei Hanyo, Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, saat sedang membersihkan ladang.
Yayasan BOS, menjemput orang utan itu di Polsek Kapuas Hulu, 29 April 2017, setelah penemu pertama, Kukun warga desa setempat diamankan polisi.(mdk/cob)