Pencarian Black Box & Korban Sriwijaya Air Diperluas, 9 Sektor Udara & 6 Sektor Laut
Rasman menyebut, pencarian tersebut menyeluruh ke semua temuan terkait pesawat jatuh Sriwijaya Air SJ 182. Baik itu puing pesawat hingga para penumpang yang menjadi korban.
Direktur Operasi Basarnas, Rasman mengatakan, tim SAR yang melakukan penyisiran melalui udara mencari pesawat Sriwijaya Air SJ 182 jatuh kini diperluas. Hal tersebut dilakukan dengan memperhatikan estimasi waktu yang telah memasuki hari ketiga.
"Untuk kegiatan udara itu akan tetap kita laksanakan pemantauan lewat udara, dengan areal yang kita perluas. Karena kemungkinan kalau ada benda atau barang yang jadi objek pencarian di permukaan itu bisa dipantau," tutur Rasman di Dermaga JICT 2, Jakarta Utara, Selasa (12/1).
Rasman menyebut, pencarian tersebut menyeluruh ke semua temuan terkait pesawat jatuh Sriwijaya Air SJ 182. Baik itu puing pesawat hingga para penumpang yang menjadi korban.
"Karena ini sudah tiga hari, tentu mungkin pergerakannya sudah agak menjauh jadi upaya kita untuk mencari di atas permukaan tetap kita lakukan," ujar dia.
Rasman melanjutkan, untuk udara pencarian dibagi menjadi 9 sektor. Sedangkan untuk laut dibagi 6 sektor.
"Dari enam sektor itu kita maksimalkan khusus untuk mencari black box, kita diperkuat oleh 4 unsur yang mempunyai kemampuan itu. Itu ada KRI Rigel, Baruna Jaya," tandasnya.
74 Kantong Jenazah
Sebelumnya, Kepala Basarnas (Kabasarnas) Marsdya Bagus Puruhito melaporkan tim SAR gabungan mengumpulkan 74 kantong jenazah yang berisikan bagian tubuh korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh di Perairan Kepulauan Seribu.
Data merupakan dihimpun dari operasi SAR Sriwijaya Air SJ 182 yang diselenggarakan sejak Sabtu, 9 Januari 2021 hingga Senin, 11 Januari 2021 pukul 22.05 WIB.
"Kita kembali mendapatkan tambahan 29 kantong jenazah berisi bagian tubuh dari korban yang berarti kita sudah menemukan total sebanyak sampai hari ini 74 kantong jenazah," kata Bagus, Jakarta, Senin (11/1/2021).
Tim SAR juga mengangkut bagian puing pesawat dari Perairan Kepulauan Seribu. Bagus mengatakan, serpihan pesawat ukuran kecil dimasukkan ke 16 kantong. Sedangkan, ada 24 unit bagian pesawat ukuran besar yang berhasil ditemukan.
"Bagian material badan pesawat, kita ada beberapa tambahan yang intinya bagian kecil 16 kantong, dan potongan besar 24 unit," tandas dia soal evakuasi korban dan puing Sriwijaya Air.
Kumpulan Puing Sriwijaya SJ 182 di JICT 2 Tanjung Priok
Tim Search and Rescue (SAR) gabungan masih terus melakukan pencarian puing dan jenazah korban pesawat jatuh Sriwijaya Air SJ 182. Dermaga JITC 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, menjadi titik transit temuan sebelum ditangani lebih lanjut.
Pantauan Liputan6.com, Selasa (12/1), sejumlah puing pesawat dengan beragam ukuran masih berada di pinggir dermaga. Ukuran paling besar tampak seperti salah satu bagian mesin pembakaran pesawat.
Tampak juga bagian berbentuk gear dan lempengan badan pesawat. Sejumlah kantung juga masih berada di lokasi diduga berisikan serpihan puing kecil pesawat yang disatukan agar tidak berserakan.
Aktivitas tim gabungan sendiri sudah dilakukan sejak pagi. Sekitar pukul 08.00 WIB, dua kapal karet bertenaga motor bergerak disusul satu kapal besar.
Direktur Operasi Basarnas, Rasman menyampaikan, belum ada perubahan data temuan sejak kemarin malam. "Untuk data terakhir yang kita sampaikan masih sama seperti tadi malam. Bagian tubuh atau body part 74 kantong, serpihan kecil pesawat 16 kantong, potongan besar 24. Itu data yang terakhir," tutur Rasman di Dermaga JITC, Jakarta Utara.
Sejauh ini, anggota tim yang dikerahkan sebanyak 3.600 orang lebih dengan berbagai tugas dan fungsinya. "Kita fokuskan di LKP (Last Know Position) untuk pertolongan dan pencarian," kata Rasman.
Sebelumnya, Tim Search and Rescue (SAR) TNI Angkatan Laut menyampaikan, puing-puing pesawat padat di bawah air menjadi kendala pencarian kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
"Volume pesawat yang begitu besar dan impact ke permukaan laut yang begitu besar sehingga barang itu masih ketimbun oleh bongkahan pecahan itu sendiri," ujar Komandan Satuan Tugas Laut Operasi SAR (Dansatgasla Ops) Sriwijaya Air 182, Laksamana Yayan Sofyan di Dermaga JICT II Tanjung Priok Jakarta, Senin malam 11 Januari 2021, seperti dikutip Antara.
Rencananya, lanjut dia, pada Selasa, (12/1) operasi SAR akan mengurai material pesawat untuk memudahkan pencarian kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182.
"Penguraian diselami oleh penyelaman Angkatan Laut, baik itu Denjaka, Kopaskal, Dislambair. Kemudian diselami satu per satu bongkahan dibuka dibawa ke permukaan," papar dia.
Ia menambahkan, sinyal pancaran kotak hitam Sriwijaya Air SJ 182 sudah menjurus ke satu lokasi. Tim operasi SAR sempat mendengar bunyi ping sebanyak dua kali di sekitar lokasi pencarian.
"Penyelam bawa ping locator, dia dengarkan. Misalnya didengarkan di situ, makin nyata. Kemarin sudah ditemukan ada dua ping dan sudah dilokalisir. Artinya bukan berarti black box itu sudah ketemu tapi sudah dilokalisir," kata Yayan.
Pesawat Sriwijaya Air bernomor register PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu 9 Januari 2021 pukul 14.40 WIB dan jatuh di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.
Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.
Berdasarkan data manifest, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas, enam kru aktif dan enam kru ekstra.
Reporter: Nanda Perdana Putra
Sumber: Liputan6.com