Penataan kawasan Malioboro DIY belum nyaman bagi difabel
Penataan kawasan pedestrian Malioboro baru saja dilakukan Pemda DIY. Namun, itu dikritik lantaran belum ramah difabel meski berada di jantung kota Yogyakarta.
Penataan kawasan pedestrian Malioboro baru saja dilakukan Pemda DIY. Namun, itu dikritik lantaran belum ramah bagi penyandang disabilitas alias difabel, meski berada di jantung kota Yogyakarta.
Wiwin, seorang difabel berkursi roda, mengatakan bahwa pedestrian Malioboro belum ramah bagi difabel. Pengguna kursi roda masih kesulitan untuk mengakses jalur disediakan bagi para wisatawan untuk berjalan kaki.
"Untuk naik turun ke trotoar masih sulit. Kalau mau naik ke trotoar masih ketinggian sedangkan kalau mau turun terlalu curam. Kalau enggak dibantu orang lain susah," ujar Wiwin, Sabtu (24/12) kemarin.
Wiwin juga mengeluhkan bahwa dipasangnya bollard bulat di tiap ujung trotoar, menyulitkan akses pengguna kursi roda. Jarak antar bollard yang terlalu sempit menyulitkan pengguna kursi roda untuk melewatinya.
Sedangkan menurut Akhmad Soleh, difabel tunanetra, penataan tahap I di kawasan Malioboro secara umum sudah bagus. Akan tetapi untuk mengetahui kekurangannya, ada baiknya dilakukan sejumlah uji coba bagi difabel.
"Perlu diujicoba ke difabel. Uji coba minimal 3 bulan. Coba teman-teman difabel dilepas jalan sendiri di Malioboro. Bisa pulang tidak dari Malioboro," usul Soleh.
Soleh juga mengusulkan bahwa ujicoba yang dilakukan oleh Pemda DIY bisa dalam berbagai kegiatan. Salah satu kegiatannya bisa berupa jalan sehat untuk difabel. Tetapi bisa bentuk yang lainnya.
Gubernur DIY Sri Sultan HB X saat peresmian penataan tahap I kawasan pedestrian Malioboro beberapa hari yang lalu meminta kepada semua pihak agar mengkritisi hasil pengerjaan revitalisasi Malioboro selama tahun 2016 tersebut. Nantinya, kritik dan saran dari masyarakat tersebut akan digunakan sebagai modal penting untuk revitalisasi Malioboro tahap II yang dilangsungkan pada 2017 mendatang.
"Jangan sampai mengkritisi ketika sudah jadi semua, kan repot. Jangan dibiasakan seperti itu. Kalau dari awal terlihat tidak pas, dikritisi. Sehingga hasil itu baik, kita yang mengerjakan ya puas," ucap Sultan.
Baca juga:
Penataan kawasan Malioboro DIY belum nyaman bagi difabel
KPU jamin 2.262 difabel dapat mencoblos di Pilkada Bekasi
Mensos resmikan Difabel Tanggap Bencana di Yogyakarta
Mensos Khofifah luncurkan e-Warong Disabilitas pertama di Indonesia
Semangat wanita disabilitas asal Solo membatik pakai kaki
Kisah inspiratif Ayu pembatik difabel asal Solo