LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Pemuda kini mudah lecehkan pahlawan & lambang negara, pertanda apa?

Pendidikan dan kurangnya teladan dianggap mempercepat tergerusnya nasionalisme di kalangan pemuda.

2016-05-08 09:37:40
Pahlawan Nasional
Advertisement

Masih lekang dari ingatan ketika seorang remaja lelaki mengacungkan jari tengah di depan foto Jenderal Sudirman. Ada lagi kisah pemuda asal Tobasa menendang lambang Garuda.

Kini muncul sekelompok pemuda nekat naik ke atas patung pahlawan revolusi demi berfoto. Ulah para pemuda tersebut memancing kecaman para pengguna media sosial, khususnya Facebook. Ulah para pemuda itu dikritik karena dianggap menghina tujuh pahlawan revolusi, yang merupakan bagian dari Monumen Pancasila Sakti.

Sosiolog asal Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, menilai ulah para pemuda itu sekedar mencari sensasi. Sebab, di era perkembangan teknologi saat ini, media sosial memberikan tempat bagi banyak orang menjadi kaum narsis. Lewat media sosial, seseorang bisa mengungkapkan jati diri dari kehidupan nyata yang kadang ditutupi. Dari pengamatannya, kelakuan mereka hanya buat mencari perhatian banyak orang.

"Foto itu tidak hanya patung, tapi banyak sekali. Mungkin semuanya sudah foto, di depan tugu, di atas jembatan sudah dia lakukan semua. Terus mencari sensasi dan pilihannya ke patung dengan ada garuda itu," kata Sunyoto saat dihubungi merdeka.com, kemarin.

Meski pada foto itu tampak tiga remaja berfoto sambil menduduki kepala patung pahlawan, Sunyoto menilai hal itu tidak termasuk dalam kategori penghinaan lambang negara. Jika dilihat dari konteks foto, itu hanyalah foto narsis remaja. Dikatakan menghina lambang negara, jika para remaja ini merupakan bagian dari pakar orang-orang yang ada kaitannya dengan kasus makar politik.

"Ya jangan mengkeramatkan patung. Kalau yang cuma foto itu enggak apa-apa. Itu kan cuma ingin narsis saja, keinginan diri, naik ke atas patung buat foto dekat lambang negara. Saya kira itu perlu diberi peringatan saja lah. Pertama ya untuk tidak diulangi. Kedua bagaimana orang menghormati karya seni, menghormati simbol-simbol negara. Saya kira itu tidak ada ketegasan, justru saya melihat adanya pembiaran dari pemerintah," tutur Sunyoto.

Sunyoto melanjutkan, perilaku itu menjadi cerminan kurangnya rasa nasionalisme rakyat Indonesia, terutama di kalangan remaja.

"Oh ya memang. Secara umum kita ini memang tergerus nasionalismenya. Ya itu yang mengajarinya juga elit-elit politik kita juga. Coba, barang-barang impor itu siapa yang merajalela. Sampai makanannya itu, kalau enggak dari impor, mereka itu gatal. Padahal potensi-potensi lokal itu masih banyak," tambah Sunyoto.

Sunyoto menambahkan, saat ini sulit mencari tokoh bisa diteladani baik dari segi ide maupun perilaku. Para pemimpin saat ini justru sibuk dengan urusannya, tanpa mengindahkan perjuangan para pahlawan. Mereka asyik dengan politik uang buat mendapatkan kekuasaan.

"Coba lihat perilaku elit politik sekarang. Mereka sendiri yang tidak meneladani pahlawan. Asyik main money politic. Harusnya mereka jadi teladan, bagaimana cara menjaga nilai-nilai dan ide-ide dari pahlawan kita. Sulit sekali mencari teladan di negara kita," ungkap Sunyoto.

Tak cuma itu, Sunyoto merasa peran pendidikan juga memberikan pengaruh dalam menanamkan rasa nasionalisme. Dalam pandangannya, sekolah dianggap hanya mengajarkan siswa berkompetisi dalam mendapatkan nilai saat ujian. Akibatnya, para siswa hanya fokus mendapatkan nilai tinggi.

"Kalau sekarang kan yang diajarkan kompetisi mendapatkan nilai. Kawan itu jadi lawan," imbuh Sunyoto.

Seharusnya, tambah dia, sekolah juga mesti mengasah budi pekerti dan kepribadian pelajar, serta penghargaan terhadap prestasi. Sunyoto mengatakan, banyak mata pelajaran tidak diujikan dalam ujian nasional. Untuk itu, dia mempertanyakan apakah pelajaran melukis, menulis, dan yang lainnya tidak juga diujikan.

"Nah itulah yang saya kira boleh ada ujian negara untuk mengukur kemampuan siswa, tapi bukan cuma itu saja. Pendidikan lebih luas dari itu. Kepribadian, agama, nasionalisme. Pancasila jangan diartikan teksnya, tapi bagaimana dipraktikannya dalam kehidupan berbangsa. Saya kira semuanya harus jadi bagian dalam sistem pendidikan itu, termasuk menghargai pahlawan, menghargai jasa-jasa pahlawan," tutup Sunyoto.(mdk/ary)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.