Pemerintah akan relokasi warga Clapar yang rumahnya rusak
Menteri Khofifah, menjelaskan relokasi tersebut nantinya akan dibangun hunian tetap merujuk pada role model yang ada.
Warga Desa Clapar Kecamatan Madukara Banjarnegara Jawa Tengah, yang rumahnya rusak akibat kejadian tanah bergerak akan direlokasi pemerintah. Keputusan tersebut sudah dikoordinasikan antara pemerintah pusat dengan pemerintah kabupaten Banjarnegara.
Saat kunjungan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di Desa Clapar, Jumat (1/4), Bupati Banjarnegara, Sutejo Slamet Utomo mengemukakan relokasi untuk saat ini diprioritaskan bagi warga yang rumahnya roboh dan tidak mungkin lagi bisa dihuni. "Kita upayakan semaksimal mungkin akan direlokasi dekat sini, karena mereka (warga) memiliki lahan pertanian di sekitar sini," jelasnya.
Lahan yang akan digunakan untuk relokasi, jelas Sutejo, adalah lahan bengkok desa. Namun, hingga saat ini belum dipastikan berapa banyak jumlah warga yang akan direlokasi. "Yang jelas untuk luasannya nanti disesuaikan dengan kebutuhan dan standar yang sudah ditetapkan mengenai luas tanahnya," ucapnya
Menteri Khofifah, menjelaskan relokasi tersebut nantinya akan dibangun hunian tetap yang merujuk pada role model di Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara. Mengenai biaya yang digunakan untuk pembangunan hunian tersebut, Khofifah mengemukakan pihaknya menganggarkan Rp 35 juta untuk satu rumah.
"Nanti juga BNPB akan ada juga. Jadi biasanya kita berbagi, BNPB berapa, provinsi berapa. Biasanya seperti itu, seperti yang di Sinabung kita patungan, di Ambon kita patungan," jelasnya.
Selain pembangunan hunian tetap, rencananya juga akan dibangun jembatan bailey yang digunakan untuk aktivitas akses jalan yang saat ini sudah tidak bisa dilalui kendaraan. Menurut Khofifah, keberadaan jembatan bailey ini nantinya akan memudahkan akses masyarakat yang sebagian besar bermata pencarian petani salak untuk memasarkan produk pertanian mereka.
"Disiapkan jembatan bailey, supaya akses masyarakat di sekitar Desa Clapar yang punya produk pertanian, terutama salak yang marketnya cukup bagus, ini tidak terganggu proses transportasi dalam memasarkan produk pertanian mereka," jelasnya.
Sementara itu, seorang petani salak di Desa Clapar, Muyanto mengaku hanya bisa pasrah dengan hasil pertanian yang didapat saat ini. Peristiwa tanah bergerak yang menyebabkan longsor, membuatnya tak bisa memanen hasil perkebunan salaknya. "Kalau biasanya bisa panen satu kuintal, sekarang seperti ini keadaannya. Hanya bisa pasrah saja," jelasnya.
Saat ditanya kemungkinan relokasi, ia mengaku bisa menerima jika memang diharuskan. Menurutnya, kondisi tanah bergerak membuat warga was-was dan tidak nyaman saat di rumah. "Kami hanya bisa manut saja, yang penting aman dan nyaman," jelasnya.