LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Pemerhati Pendidikan: 70 Persen Siswa Rasakan Emosi Negatif Dampak Sekolah Online

"Justru tugas-tugas tersebut menjadi beban. Juga ada kesulitan belajar yang dirasakan anak SD hingga SMA, artinya mereka merasa tidak produktif atau berkurang motivasi selama proses belajar," terang dia.

2021-08-12 00:32:00
corona covid
Advertisement

Pendidikan di dalam negeri hingga kini masih menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat Pandemi Covid-19. Seluruh siswa dituntut bersekolah dari rumah dengan sistem daring.

Sayangnya, tercatat 57 persen siswa tingkat SD dan SMP merasakan emosi negatif. Sedangkan, untuk tingkat siswa SMA mencapai 70 persen.

Demikian dikatakan Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal yang mengatakan PJJ dapat mempengaruhi emosi siswa.

Advertisement

"Hasil penelitian yang kami lakukan pada 1.263 siswa mulai jenjang SD hingga SMA, menunjukkan bahwa 57 persen siswa SD dan SMP merasakan emosi negatif dan 70 persen siswa SMA yang merasakan emosi negatif," ujar Rizal di Jakarta, seperti dikutip Antara, Rabu (11/8).

Emosi negatif tersebut terdiri dari banyak hal mulai dari bosan, sedih, kurang memahami materi, stress, bingung, merasa kurang bersemangat, merasa terbebani, kurang puas, hingga merasa kesulitan dalam belajar.

"Semakin tinggi jenjang pendidikan, gap antara emosi positif dan negatif semakin lebar. Ini menunjukkan bahwa ada proses belajar, strategi belajar atau kurikulum yang ternyata mungkin tidak tepat atau tidak dibutuhkan siswa dan tidak sesuai dengan perkembangan mental siswa itu sendiri," terang dia.

Advertisement

Dengan demikian, lanjut dia, terjadi proses belajar yang seragam baik itu jenjang SD hingga SMA. Saat gap emosi negatif semakin lebar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ternyata tugas yang selama ini disampaikan guru tidak bisa meningkatkan kompetensi belajar siswa.

"Justru tugas-tugas tersebut menjadi beban. Juga ada kesulitan belajar yang dirasakan anak SD hingga SMA, artinya mereka merasa tidak produktif atau berkurang motivasi selama proses belajar," terang dia.

Rizal menjelaskan kondisi itu akan berdampak pada penurunan kecerdasan dalam membangun peradaban yang semakin berdampak ke learning loss.

"Kesulitan belajar juga menempati posisi tertinggi, ditambah dengan jaringan dan kurangnya motivasi, yang berpotensi terhadap terjadi kehilangan kesempatan belajar ganda," terang dia.

Belum Ada Fokus Pemerintah

Hingga saat ini, dia belum melihat ada fokus pemerintah untuk menangani masalah kesulitan belajar dan demotivasi sebagai permasalahan mendasar di pendidikan sejak sebelum pandemi. Selama ini terlalu berfokus pada penyelesaian masalah jaringan.

Selain itu, semakin dewasa jenjang pendidikan siswa maka semakin merasa tidak berguna proses belajar PJJ karena merasa tidak produktif dan tidak mendapat keterampilan dan pengetahuan baru.

Rizal mendorong agar pemerintah dapat menyusun kurikulum darurat yang mendorong interaksi anak dengan lingkungan sosial sekaligus mengatasi persoalan nyata di kehidupan sehari-hari. Kurikulum darurat tidak cukup hanya mengurangi materi kurikulum kompetensi esensial saja, karena tetap tidak mengubah orientasi dan suasana kebatinan siswa. Kurikulum tersebut terkoneksi dengan keluarga dan kehidupan sosial untuk meningkatkan karakter dan nilai-nilai siswa.

"Dukungan orang tua berupa dukungan emosional, sangat dibutuhkan. Peran keluarga sangat kuat untuk membantu proses belajar siswa agar lebih positif dan termotivasi," imbuh dia.

Baca juga:
Regulasi Diri Adalah Proses Siswa untuk Fokus, Pahami Teori & Caranya yang Efektif
Contoh Mind Mapping yang Mudah Dibuat, Ketahui Manfaat dan Cara Membuatnya
Cara Dampingi Anak Sekolah Online Supaya Tidak Stres
Mendikbudristek Ajak Anak Indonesia Tetap Semangat dan Sabar Belajar dari Rumah
Curhat Anak Sekolah ke Jokowi: Sudah Kelamaan di Rumah Pak, Bingung
Siswa Curhat ke Jokowi: Saya Ingin Sekolah Tatap Muka Pak, Kelamaan di Rumah Jenuh

(mdk/rhm)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.