Pelatnas Renang Asian Games 2026 Terhambat Anggaran, Target Medali Terancam?
Persiapan Pelatnas Renang Asian Games 2026 menghadapi kendala signifikan akibat penurunan anggaran, memunculkan kekhawatiran terhadap target medali Indonesia di ajang olahraga terbesar Asia.
Pemusatan latihan nasional (pelatnas) renang Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 belum kembali berjalan optimal. Situasi ini terjadi di tengah adanya penurunan anggaran dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang dialokasikan untuk persiapan pesta olahraga se-Asia tersebut. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesiapan atlet renang Indonesia.
Wakil Ketua Umum I Bidang Pembinaan Prestasi dan Sport Science PB Akuatik Indonesia, Wisnu Wardhana, menyatakan bahwa pelatnas belum dimulai kembali karena belum ada perkembangan dukungan dari Kemenpora. Sebelumnya, pelatnas sempat berjalan singkat pada Maret, namun harus dihentikan karena keterbatasan dana. Hal ini tentu menghambat pola latihan ideal bagi para atlet.
Padahal, tim renang Indonesia memiliki misi penting untuk mengakhiri penantian panjang medali Asian Games yang terakhir kali diraih pada edisi 1990. Belum berjalannya pelatnas secara penuh dikhawatirkan dapat memengaruhi target yang telah ditetapkan. PB Akuatik Indonesia tetap berupaya menjaga performa atlet melalui program latihan mandiri di klub.
Kendala Anggaran dan Implikasinya pada Pelatnas Renang
Wisnu Wardhana menjelaskan bahwa program pelatnas renang menuju Asian Games 2026 sempat dimulai pada Maret lalu. Namun, program tersebut hanya berlangsung sekitar satu bulan sebelum para atlet terpaksa dikembalikan ke klub masing-masing. Keputusan ini diambil karena adanya keterbatasan anggaran yang signifikan.
Keterbatasan dana ini membuat persiapan renang Indonesia belum bisa berjalan dalam pola pemusatan latihan yang ideal. Padahal, cabang olahraga renang membawa harapan besar untuk kembali meraih medali di Asian Games. Terakhir kali medali renang diraih Indonesia adalah pada Asian Games 1990.
Kondisi ini secara langsung memengaruhi target yang dicanangkan untuk 12 atlet yang dipersiapkan menuju Asian Games 2026. Wisnu Wardhana mengisyaratkan bahwa target medali kemungkinan besar akan disesuaikan. Ia hanya bisa berharap yang terbaik di tengah situasi yang menantang ini.
Upaya PB Akuatik Indonesia dan Sejarah Medali
Meski pelatnas belum kembali dimulai secara resmi, PB Akuatik Indonesia tidak tinggal diam. Federasi tetap berupaya menjaga kesiapan atlet melalui program latihan mandiri di klub masing-masing. Ini menunjukkan komitmen PB Akuatik Indonesia dalam memastikan atlet tetap prima.
Selain itu, PB Akuatik Indonesia juga memanfaatkan berbagai kejuaraan di dalam negeri sebagai ajang uji tanding bagi atlet-atlet nasional. Wisnu Wardhana menegaskan bahwa pihaknya tetap memantau program latihan para atlet. Asian Games telah ditetapkan sebagai target utama persiapan mereka.
Ketua Umum PB Akuatik Indonesia, Anindya Bakrie, sebelumnya telah menyatakan harapan besar agar renang Indonesia dapat kembali meraih medali pada Asian Games 2026. Indonesia terakhir kali meraih medali renang Asian Games pada edisi 1990, dengan perunggu yang berhasil diraih oleh Richard Sam Bera, Wirmandi Sugriat, serta tim estafet 4x100 meter gaya bebas putra.
Respons Kemenpora dan Target Nasional Asian Games
Menteri Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Erick Thohir, sebelumnya telah menegaskan komitmen pemerintah untuk memaksimalkan persiapan tim Indonesia menuju Asian Games 2026. Penegasan ini disampaikan meskipun anggaran pelatnas mengalami penurunan yang signifikan. Kemenpora berupaya mencari solusi terbaik.
Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, Erick Thohir menjelaskan bahwa anggaran pelatnas Asian Games 2026 turun drastis dari Rp389.819.933.817 pada tahun 2022 menjadi Rp81.040.244.006. Namun, ia memastikan alokasi anggaran untuk keberangkatan kontingen tetap terjaga dan diprioritaskan.
Indonesia menargetkan empat medali emas pada Asian Games 2026, yang merupakan penurunan dari capaian tujuh emas pada Asian Games 2022. Penurunan target ini disebabkan oleh tiga nomor potensial yang tidak lagi dipertandingkan, yakni 10 meter running target dan 10 meter running target mixed dari cabang olahraga menembak, serta traditional boat race.
Erick Thohir menambahkan bahwa Kemenpora telah berkoordinasi dengan berbagai cabang olahraga, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), serta Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk menyusun strategi guna menjaga prestasi Indonesia di tingkat Asia. Ia berharap adanya dukungan tambahan dari para pemangku kepentingan, terutama dalam aspek pendanaan, karena kebutuhan atlet dan pelatih tetap harus mendapat perhatian.
Sumber: AntaraNews