LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

PDIP: Kalau dada Soekarno dibelah, di dalamnya adalah hati Islam

Hasto mengungkapkan, prinsip politik PDI Perjuangan yang bersinergi dengan NU dan juga para ulama sama seperti yang dilakukan Bung Karno yang juga punya kedekatan dengan tokoh-tokoh Islam.

2017-07-17 00:45:00
PDIP
Advertisement

PDI Perjuangan sepaham dengan Nahdhatul Ulama (NU) mengenai spirit membela negara Indonesia itu sebagian dari iman. PDI Perjuangan akan selalu bersinergi dan beriringan dengan NU dalam menjaga spirit keagamaan Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Demikian disampaikan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dalam acara Halal Bihalal dan Konsolidasi PDI Perjuangan Kabupaten Bondowoso, Minggu (16/7).

Hasto mengungkapkan, dalam upaya menjaga spirit Islam yang rahmatan lil 'alamin, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri turut serta bersama tokoh NU seperti Rois Aam PBNU KH Ma'ruf Amin yang pada tanggal 13 Juli lalu mendeklarasikan Majelis Zikir Hubbul Waton.

"Di mana bersama-sama (Ibu Megawati dan tokoh NU) membangun sebuah kesadaran, pentingnya majelis dzikir, yang didirikan bersama dengan keluarga nahdiyyin, agar kita betul-betul bisa menjaga spirit keagamaan kita agar Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, dan Islam mampu menjadi sebuah spirit di dalam kemajuan kita sebagai sebuah bangsa," kata Hasto.

Hasto mengungkapkan, prinsip politik PDI Perjuangan yang bersinergi dengan NU dan juga para ulama sama seperti yang dilakukan Bung Karno yang juga punya kedekatan dengan tokoh-tokoh Islam.

"Bahkan Bung Karno menegaskan, kalau dada Soekarno ini dibelah, maka di dalamnya yang ada adalah hati Islam. Tetapi Bung Karno sadar, bahwa Republik Indonesia dibangun untuk semua, Republik Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, berbagai macam suku bangsa, ini punya ikrar pada 28 Oktober tahun 1908 untuk menyatakan diri sebagai satu bangsa, yang bertanah air satu," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Hasto juga menceritakan bagaimana ketika Ibu Megawati menjadi presiden. Saat itu, Megawati pun mewarisi semangat perjuangan dan nasionalisme Islam tersebut. Contohnya dalam menghadapi dan memerangi terorisme, saat itu Presiden Megawati tidak mau diatur oleh kekuatan asing.

"Bahkan di dalam pidato di PBB, Ibu Megawati mengatakan akar persoalan terorisme karena ketidakadilan masalah Palestina. Karena itulah Republik Indonesia mendukung penuh kemerdekaan Palestina dengan seluas-luasnya saudara," beber Hasto.

Baca juga:
Kisah hijrah Orang Rimba, dari anut animisme kini peluk Islam
Keteguhan beribadah di bawah terik Yerusalem
Jokowi di depan ratusan ulama: Islam radikal bukan Islam Indonesia
Muslim radikal di Jerman ketahuan tidak paham Alquran
Samakan Islam dengan bakteri, pejabat AS tolak minta maaf

(mdk/ded)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.