Paskibraka lahir dari gagasan ajudan Soekarno
"Paskibraka sudah ada sejak tahun 1945, tapi belum terorganisir," ujar Gousta.
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) kerap menjadi pusat perhatian pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Terutama pada Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-71 tahun ini dengan ramainya cerita Gloria Natapradja Hamel. Namun apakah Anda tahu bagaimana awal mula terbentuknya pasukan ini?
"Paskibraka sudah ada sejak tahun 1945, tapi belum terorganisir," ujar Gousta Feriza, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) saat dihubungi merdeka.com, Jumat (19/8).
Paskibraka lahir dari gagasan Husein Mutahar, salah seorang ajudan Presiden Soekarno, pada tahun 1946. Menjelang perayaan HUT pertama RI, Soekarno meminta ajudannya tersebut untuk mempersiapkan upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan di halaman Istana Presiden Gedug Agung Yogyakarta. Pada saat itu, Ibu Kota RI memang sedang dipindahkan ke Yogyakarta karena masalah keamanan.
Dikutip dari berbagai sumber, untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa, Mutahar berpikir bahwa pengibaran bendera merah putih sebaiknya dilakukan oleh para wakil pemuda dari daerah-daerah di Indonesia. Namun gagasan tersebut sangat sulit untuk dilaksanakan, sehingga Mutahar hanya berhasil menghadirkan lima orang pemuda (tiga laki-laki dan dua perempuan) dari berbagai daerah yang sedang bermukim di Yogyakarta.
Jumlah lima orang ini merupakan simbol dari lima sila Pancasila. Upacara dengan formasi serupa juga dilaksanakan pada tahun 1947-1949 dengan menampilkan para pemuda dari daerah-daerah lain.
Ibu Kota RI kembali ke Jakarta pada tahun 1950. Sejak saat itu, tugas Mutahar untuk menangani upacara pengibaran bendera Pusaka digantikan oleh Rumah Tangga Kepresidenan. Sampai tahun 1966, pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang berada di Jakarta.
Mutahar kembali dipanggil pada tahun 1966 oleh Presiden Soeharto. Ia yang saat itu menjabat sebagai Dirjen Urusan Pemuda dan Pramuka (UDAKA) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, diminta untuk menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka. Momen tersebut ia gunakan untuk kembali mewujudkan gagasannya membentuk pasukan yang terdiri dari para pemuda perwakilan seluruh daerah di Indonesia.
Pada saat itulah Mutahar membentuk pasukan dengan tiga kelompok yakni kelompok 17 sebagai pengiring/pemandu, kelompok 8 sebagai inti/pembawa bendera, dan kelompok 45 sebagai pengawal.
Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Namun karena kondisi pada saat itu, ia hanya dapat melibatkan para putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka.
"Mulai 1967 baru ada proses pemilihan, lalu dibuat aturannya," lanjut Gousta.
Sejak 1968, petugas pengibar bendera Pusaka merupakan pemuda perwakilan dari berbagai provinsi. Namun belum semua provinsi dapat mengirimkan utusan, sehingga eks anggota pasukan tahun 1967 masih harus membantu.
Pada 1969, bendera duplikat (dari enam carik kain) mulai dikibarkan menggantikan bendera Pusaka yang kondisinya sudah semakin rapuh. Pada tahun itu juga secara resmi petugas pengibar bendera merupakan remaja siswa Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) se-Indonesia yang merupakan perwakilan dari 26 provinsi. Tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja, laki-laki dan perempuan. Aturan tersebut masih berlaku sampai saat ini (sekarang 34 provinsi).
Nama Paskibraka yang merupakan akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA sendiri baru dicetuskan pada 1973 atas ide dari Idik Sulaeman. Sebelum itu, istilah yang digunakan adalah Pasukan Pengerek Bendera Pusaka.
Sampai saat ini, setiap tahunnya Paskibraka masih bertugas tiap tanggal 17 Agustus. Tugas utama mereka adalah mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi RI di tiga tempat, yakni kantor bupati/walikota (tingkat kabupaten/kota), kantor gubernur (tingkat provinsi), dan Istana Merdeka (tingkat nasional).
Baca juga:
Bukan sembarang orang bisa jadi Paskibraka
Deretan wanita cantik pembawa Bendera Pusaka
Perasaan Paskibraka saat bawa bendera pusaka di hadapan presiden
Megawati, Airin sampai Pasha Ungu pernah jadi Paskibraka
Kisah Silvi, gagal jadi Paskibra karena ditabrak truk
Video Paskibra gagal kibarkan bendera saat HUT Kemerdekaan ke-71 RI