LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Pasien Melahirkan Diduga Ditinggal Bidan Tidur, Tim Investigasi Diberi Waktu Seminggu

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru terus mengumpulkan informasi terkait kasus kematian TK, wanita hamil saat melahirkan yang disebut-sebut ditinggal bidan puskesmas di Musi Rawas Utara (Muratara) tidur. Jika ditemukan kesalahan, ia instruksikan Pemerintah Kabupaten mengambil tindakan tegas.

2023-05-31 15:51:58
Malapraktik
Advertisement

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru terus mengumpulkan informasi terkait kasus kematian TK, wanita hamil saat melahirkan yang disebut-sebut ditinggal bidan puskesmas di Musi Rawas Utara (Muratara) tidur. Jika ditemukan kesalahan, ia instruksikan Pemerintah Kabupaten mengambil tindakan tegas.

Deru juga memaparkan informasi yang didapatnya bahwa wanita tersebut termasuk dalam pasien berisiko tinggi karena berat janin yang dikandungnya terbilang besar atau di atas normal. Hal ini diketahui dari pemeriksaan rutin pasien TK di Puskesmas Pauh, Muratara.

Dengan kondisi itu, bidan puskesmas setempat merekomendasikan dan merujuk pasien melakukan persalinan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan dengan peralatan lebih lengkap. Namun, keluarga masih membawa pasien ke puskesmas saat sudah merasakan nyeri sebagai tanda-tanda melahirkan.

Advertisement

"Ibu itu sudah rutin periksa karena bayinya besar dan tubuh ibu itu tingginya 150 cm, bayinya gede, jadi gak seimbang dengan ibunya. Jadi nakesnya menyarankan ke rumah sakit," ungkap Deru, Rabu (31/5).

Muncul pertanyaan mengapa bidan dan nakes lain tidak segera membawa pasien ke rumah sakit ketika kondisinya memburuk, padahal mereka sudah mengetahui kondisi janin wanita itu. Terkait pertanyaan ini, Deru mengaku belum mendapat informasi itu. Hal itu nantinya akan terjawab oleh tim investigasi yang dikerahkan langsung dari provinsi.

Advertisement

"Ini salah satu pertanyaan yang saya titipkan ke tim yang bertugas," ujarnya.

Dia menjelaskan, tim investigasi yang dikerahkan merupakan ahli di bidang masing-masing dan mumpuni. Tim ini diketuai Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Direktur Utama RSUP Mohammad Hoesin Palembang, dan Direktur RSUD Siti Fatimah Sumsel sebagai wakilnya, serta beranggotakan orang-orang yang mumpuni.

"Investigasi saya minta seminggulah (rampung). Hasil kerja tim akan kita dengar secara komprehensif," ujarnya.

Jika nantinya ditemukan kesalahan atau kelalaian dari nakes yang bertugas, ia menginstruksikan Pemkab Muratara mengambil tindakan tegas. Namun, ia meminta dapat mendalami setiap informasi dari masing-masing pihak.

"Kalau ada kesalahan seperti kelalaian atau lainnya, jelas diberi sanksi administratif," tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang pria, LK, harus dibuat bersedih dan kesal seumur hidupnya lantaran istrinya meninggal dunia saat melahirkan. Ironisnya, kejadian itu diduga akibat kelalaian bidan yang menanganinya.

Kisah ini ia tuangkan dalam media sosial dan menjadi viral. Akun Instagram @palembang_bedesau.id memposting ulang curahan hati LK, Senin (29/5).

Dalam akun IG tersebut, LK menerangkan secara jelas kronologis kejadian hingga istrinya, TK, meninggal dunia. Cerita itu ia tulis dalam bahasa daerah.

"Min tolong viralkan ataupun bagikan, supayo di liat pemerintah daerah supaya ado tindak lanjutnyo," tulis LK mengawali.

Ceritanya, istrinya hendak melahirkan dan ia bawa ke Puskesmas Pauh, Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Selasa (9/5) sekitar pukul 22.00 WIB. Pukul 01.30 WIB, ketuban pecah namun hingga pukul 03.00 WIB belum juga melahirkan.

Beberapa menit kemudian, mereka ditinggal bidan puskesmas untuk tidur. Otomatis mereka tidak didampingi oleh seorang pun tenaga kesehatan di ruang bersalin. Sontak, pria itu kesal dengan sikap bidan tersebut. Lantas ia mengedor pintu ruang bidan yang tidur dengan maksud menanyakan tindakan yang harus dilakukan karena kondisi istrinya sudah lemah.

"Awak marah, awak gedur lawang. Awak bicara sama bidan (apo kamu tu dak nak ngurus apo dak nak muat rujukan kondisi tika mulai lemah). (Saya marah, saya gedor pintu dan bicara sama bidan. Apa kamu tidak mau mengurus, apa tidak mau bikin surat rujukan karena Tika mulai lemah)," ujarnya.

Kemudian bidan keluar dan bicara dengan mertua LK di ruang bersalin. Mereka tersinggung dengan ucapan LK barusan sehingga bidan itu mengusir mertuanya dengan kata-kata kasar.

"Pas nak masok lagi takunci pintu, ngapo bidan ngunci pintu dakte kuargo yang nemani tika di dalam dakte utak nian bidan puskesmas pauh jangan mentang2 mereka bidan jangan sakendak kenda mereka."

(Waktu mau masuk pintu sudah terkunci, kenapa bidan mengunci pintu, tidak ada keluarga yang menemai Tika di dalam. Tidak ada otak/pikiran bidan Puskesmas Pauh, jangan mentang-mentang mereka bidan maunya sendiri).

Empat jam setelah ketuban pecah atau pukul 05.00 WIB, bidan barulah merujuk istrinya ke RS Ar Bunda Lubuklinggau. Namun, istri dan calon bayi pertamanya tak bisa diselamatkan tak lama setelah tiba di rumah sakit.

Kejadian itu membuat LK kecewa berat. Ia menyayangkan kelalaian bidan membuat dua nyawa yang ia sayangi pergi untuk selamanya. Padahal, hal itu bisa dicegah jika bidan segera mengambil tindakan untuk merujuk ke rumah sakit. Lebih kecewanya lagi, saat istrinya berjuang justru ditinggal tidur oleh bidan yang mengaku mengantuk.

"Kejadian ko sebuah kelalaian bidan puskesmas. Memang ajal dakte yang tau tapi perawatan bidan tu muat idak puas. Allah tulah yang tau." (Kejadian ini adalah sebuah kelalaian bidan puskesmas. Memang ajal tidak ada yang tahu tapi perawatan bidan itu membuat pelayanan tidak puas. Allah saja yang tahu)," tutupnya.

(mdk/yan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.