Pasien marah dokter mogok
"Pasien juga masih membayar, diberi tunjangan tinggi, dan masih mogok itu memalukan," kecam Ny Us.
Aksi mogok yang dilakukan seratus lebih tenaga dokter di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Rabu, menuai kecaman, terutama dari masyarakat dan keluarga pasien.
"Sangat disayangkan, karena dokter ini seharusnya mengedepankan fungsinya dalam hal pelayanan pasien. Bukan malah mogok kerja seperti ini," kritik Muanam, salah seorang keluarga pasien rawat jalan di RSUD dr Iskak, Tulungagung, Rabu.
Penyesalan maupun kecaman juga dilontarkan sejumlah pasien maupun keluarga pasien, setelah mereka mengetahui seluruh poliklinik di RSUD dr Iskak dinyatakan ditutup sehari ini, karena alasan aksi solidaritas keprihatinan atas pemenjaraan dokter spesialis kandungan RSP Manado, dr Dewa Ayu Sisiary Prawani oleh Kejaksaan Manado.
Beberapa pasien bahkan ada yang mencoba klarifikasi ke staf kesehatan di ruang poli RSUD, namun sebagian mengaku hanya diberitahu jika dokter sedang tidak melakukan layanan kesehatan.
"Apapun alasannya, tidak pantas dokter melakukan (aksi) mogok kerja. Mereka digaji mahal pakai uang negara yang berasal dari pajak masyarakat, pasien juga masih membayar, diberi tunjangan tinggi, dan masih mogok itu memalukan," kecam Ny Us, warga Kelurahan Jepun, Tulungagung.
Tidak hanya pasien dan keluarga pasien yang berang, aksi mogok dokter juga menjadi perbincangan di twitter dan grup BlackBerry Messenger.
Seorang anggota grup bbm yang juga tenaga perawat dari Kota Blitar, M Erwan, bahkan mengunggah komentar sinis atas gerakan demo besar-besaran yang digalang IDI.
"Ingat, kalian (dokter) adalah relawan kemanusiaan. Sebelum kalian memprotes vonis sosial, sudahkah kalian selama ini tulus ikhlas melayani manusia di sekitarmu, atau hanya menjadikan mereka sebagai komoditi pekerjaanmu," unggah pemilik status Kanjeng Mantri ini dengan nada tanya.
Berbagai komentar maupun pembaruan status bbm dan twitter bernada pro maupun kontra juga banyak mewarnai peristiwa mogok kerja sebagian besar dokter di Tulungagung hari ini.
Sebelumnya, Selasa (26/11), Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tulungagung, dr Kansil Rahman menyatakan bahwa 187 dokter di daerahnya akan menghentikan seluruh aktivitas layanan kesehatan, kecuali untuk kasus kedaruratan serta tindakan operasi medis yang tidak bisa ditunda.
Meski tidak secara lugas menyebutnya sebagai mogok kerja, dr Kansil mengistilahkan gerakan/aksi keprihatinan untuk dr Ayu dkk tersebut sebagai gerakan bertafakur di rumah masing-masing.
Belakangan pernyataan mogok kerja para dokter ini dibantah oleh Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, dr Gatot DP Purwanto, setelah pihaknya mengklarifikasi langsung kepada dr Kansil Rahman.
"Beliau mengatakan, tidak ada pernyataan boikot, hanya tafakur bersama, itupun layanan kesehatan tetap dilakukan seperti biasanya," kata Gatot.(mdk/tts)