LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Para pangeran Orde Baru terus bersinar karena punya nyali kuat

"Perusahaanya tidak ambruk, mereka mempunyai nyali. Contohnya Adiguna dan Bambang Trihatmodjo," ujar Ichsanudin.

2013-11-02 15:19:02
Pangeran Orde Baru
Advertisement

Menjadi pengusaha butuh mental baja dan kuat, karena tak jarang gagal dan jatuh. Apalagi perusahaan yang dikelola dengan mayoritas milik keluarga. Tentunya perusahaan ini telah membangun dinastinya sejak Orde Baru hingga saat ini diwarisi anak cucu cicitnya. Tak dipungkiri jika banyak perusahaan yang masih mempunyai kekuatan sampai di zaman sekarang ini.

Pengamat politik dan ekonomi, Ichsanudin Noorsy mengatakan, apabila salah satu perusahaan yang masih aktif dari Orde Baru hingga saat ini dan dilanjutkan oleh anaknya, pastinya mempunyai watak wirausaha yang kuat sehingga dapat bertahan.

"Tidak sedikit anak pengusaha yang mempunyai sifat seperti itu makanya perusahaanya tidak ambruk, mereka mempunyai nyali. Contohnya Adiguna dan Bambang Trihatmodjo," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Jumat (1/11).

Bukan hanya itu, dia menjelaskan masih berjalannya perusahaan tersebut dikarenakan mampu melihat peluang bisnis yang saat diminati oleh para investor asing maupun domestik. Tentunya, disertai dengan faktor kekuatan modal perusahaan yang memadai.

"Rata-rata perusahaan tersebut menyewa beberapa orang yang sudah berprofesional untuk mengurusi perusahaannya, dengan bayaran yang tinggi dan mencukupi sehingga perusahaan bisa bertahan," ungkap dia.

Selanjutnya, keberanian perusahaan tersebut menurut dia mempunyai jaringan usaha yang berjalan dengan baik. Saat ditanya soal previlege perusahaan yang didapatkan zaman Orde Baru hingga saat ini, dipastikan tidak lagi mempunyai hak birokasi. "Mati privelege nya, mereka sakit hati," jelasnya.

Sementara, pengamat ekonomi Yanuar Rizki menambahkan beberapa perusahaan jamannya Soeharto mempunyai perbedaan baik dari pelaku dan keuangan perusahaanya. Namun, mereka masih dapat menunjukkan kekuatan ditengah kondisi ekonomi saat ini.

"Ya masihlah mereka eksih hingga saat ini seperti Sinarmas, Lippo, Bakrie, Kalla, Salim dll. Mereka dulu zaman Soeharto mendapatkan fasilitas kalau Soeharto mempunyai program," kata dia.

Sayangnya, kondisi saat ini menurutnya banyak perusahaan yang besar tapi minim pelaku industri. Kendati demikan, perusahaan tersebut mempunyai gerak ekspansi yang tinggi di saat ini. Saat ditanyakan soal bisnis keluarga cendana, dia menganggap bisnisnya kemungkinan akan meredup.

"Cendana sedang tidak berkembang tapi bisnisnya lainnya kan ada. Intinya nanti semua perusahaan yang dulu sampai saat ini masih bisa baik ke depannya," ujarnya.

Seperti diketahui, keluarga Soeharto memiliki puluhan perusahaan yang diwariskan kepada lima anaknya. Tercatat, putri tertua Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut mempunyai 75 perusahaan, salah satunya PT Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) sebuah perusahaan media yang kini berganti nama Media Nusantara Citra (MNCN) setelah Harry Tanoe membeli mayoritas saham TPI di tahun 2006. Proses akuisisi ini mencuat bulan kemarin setelah Mahkamah Agung memenangkan kepemilikan TPI oleh pihak Tutut.

Sentuhan HT, membuat RCTI dan TPI berkembang menjadi konglomerasi media di bawah naungan Grup MNC. Tak hanya menjadi mesin uang di mana putra ketiga Bambang Trihadamodjo dan Tutut ikut menikmatinya, RCTI dkk kini menguasai pangsa permisa televisi terbesar.

Tercatat, berdasarkan laporan keuangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di kuartal II/2013 laba bersih meningkat 33 persen menjadi Rp 530 miliar dari Rp 397 miliar, sehingga total pendapatan perusahaan meningkat 2 persen menjadi Rp 1.768 milyar dari Rp 1.729 milyar. Ini disebabkan pendapatan iklan merupakan kontribusi terbesar dengan kontribusi sebesar 95 persen dari total pendapatan konsolidasi. Pendapatan iklan meningkat sebesar 12 persen menjadi Rp 1.682 milyar dari Rp 1.504 milyar.

Belum lagi, pada bulan Juni, perusahaan mempunyai pangsa pemirsa Tv Prbayara atua channel pay-TV milik MNC meningkat menjadi 25 persen dibandingkan dengan 18 persen di 2012. MNC masuk ke dalam 20 program terpopuler di TV berlangganan, dan hal ini menunjukkan tingginya kualitas dari konten yang diproduksi MNCN dan pemilihan pemirsa terhadap program lokal.

Menanggapi kinerjanya di perusahaan media, setidaknya beberapa bisnis keluarga cendana dapat menjadi tabungan untuk kejayaan diri sendiri.(mdk/did)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.