Pakar Pendidikan: Jangan Anggap Remeh Kekuatan Bermain Anak di Usia Emas
Masa emas yang juga dikenal sebagai masa usia dini adalah saat di mana penyerapan pengalaman positif akan mempengaruhi kesehatan fisik, perkembangan otak, dan pertumbuhan mental anak.
Pakar Pendidikan Anak, Damar Wijayanti, Damar Wijayanti menyampaikan hasil riset Universitas Helsinki terkait perlunya lingkungan yang memaksimalkan masa emas anak-anak (usia 0-6 tahun) secara holistik. Masa emas yang juga dikenal sebagai masa usia dini adalah saat di mana penyerapan pengalaman positif akan mempengaruhi kesehatan fisik, perkembangan otak, dan pertumbuhan mental anak.
Ketika lingkungan aman sudah tersedia, riset Universitas Helsinki tersebut kemudian mendorong orangtua dan guru sebagai fasilitator belajar anak untuk memberi stimulasi belajar melalui interaksi yang sesuai, yaitu bermain.
"Kita seringkali menganggap remeh kekuatan bermain. Padahal melalui bermain, anak-anak sedang mengumpulkan pengalaman-pengalaman sebagai fondasi yang kuat untuk perkembangan optimal mereka ke depannya," ujar Damar di Jakarta, Kamis (6/4).
Ketika bermain, lanjut dia, anak juga memiliki kesempatan untuk melakukan kesalahan dalam konteks yang aman, hal ini akan membantu mereka mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang sebuah konsep yang sedang dipelajari.
"Sehingga mereka memahami hal yang perlu dilakukan dan tidak dilakukan di lingkungan dan interaksinya sehari-hari. Inilah mengapa bermain adalah cara paling tepat untuk anak belajar," jelas dia.
Sejalan dengan hal itu, Arthalia Larsen, HEI Schools Senayan Director meyakini bahwa play-based learning adalah praktik terbaik dalam pendidikan anak usia dini di seluruh dunia karena mendorong anak untuk belajar melalui permainan dan eksplorasi mandiri.
"Riset membuktikan bermain adalah cara alami anak usia dini untuk belajar. Dengan cara ini, mereka bisa belajar keterampilan-keterampilan penting secara spontan dan tanpa batasan seperti keterampilan sosial emosional melalui cara berinteraksi dan bernegosiasi dengan anak lain," tutur Arthalia.
Salah satu sarana belajar di sekolahnya, lanjut Arthalia, adalah area taman bermain di dalam sekolah bernama HEI Playcabin. Empat menara menjulang dengan tingkat ketinggian yang berbeda, disambungkan dengan jembatan-jembatan dari tali tambang dan material menyerupai kayu.
"HEI Playcabin didesain sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan minat unik anak-anak dalam mengeksplorasi dirinya dan membangun relasi sosial dengan teman-temannya. Penamaannya pun diberikan sendiri oleh anak-anaknya, dengan demikian ada rasa memiliki terhadap area bermain tersebut," jelas dia.
Bagi satu anak, kata dia, menara ini dibayangkan sebagai istana, bagi anak lain dibayangkan sebagai roket luar angkasa.
"Di sini lah seninya belajar dengan bermain. Mereka yang merangkai sendiri petualangan mereka, kita yang orang dewasa mendampinginya melalui interaksi yang mendukung secukupnya," ujar dia.