Pakar Nilai Sampah Indonesia 'Kejam', Ini Penjelasannya
Penyebabnya, tidak ada pemilahan sampah basah dan kering dari sisi hulu, yaitu rumah tangga.
Inventor Teknologi Pengolahan Sampah Hydrorive, Djaka Winarso mengatakan sampah di Indonesia 'sangat kejam'. Penyebabnya, tidak ada pemilahan sampah basah dan kering dari sisi hulu, yaitu rumah tangga.
"Saya mulai belajar teknologi apa yang cocok buat di Indonesia dengan kondisi itu yang menumpuk, basah, kejam lah ya istilahnya," ucap Djaka dalam webinar, Jumat (15/10).
Dia mengaku beberapa kali melakukan uji coba teknologi yang cocok dengan kondisi sampah basah yang bergabung dengan sampah kering, sekaligus tanpa ada pemilahan sampah organik dan anorganik.
Sampai akhirnya pada uji coba 2008 hingga saat ini, Djaka menilai teknologi thermal cukup pantas mengolah sampah 'khas Indonesia'.
"Akhirnya saya memilih teknologi yang cocok itu buat di Indonesia adalah teknologi thermal karena dia bisa menyelesaikan sampah dengan cepat dan volume yang signifikan," jelasnya.
Satu sisi, dia memahami perlu ada peningkatan lagi dalam teknologi thermal di pengolahan sampah. Sebab proses teknologi tersebut juga menggunakan bahan bakar fosil seperti solar.
Sebelum proses reduksi sampah dilakukan, sampah-sampah basah akan dikeringkan terlebih dahulu untuk kemudian dihancurkan dengan teknologi thermal tanpa menggunakan bahan bakar.
"Jadi sampahnya kita keringin dulu sampai dengan kalori yang bagus untuk cukup dimusnahkan sehingga dengan mudah dimusnahkan tanpa bahan bakar," ujarnya.
Baca juga:
Wacana Fasilitas Pengolahan Sampah Bantargebang, DPRD DKI Singgung Proyek ITF Mandek
Susah Payah Pemprov DKI Bangun Tempat Pengolahan Sampah
Pemkot Bekasi Ajukan Tambahan KK Penerima BLT Dampak Sampah Bantargebang
Dampak Buruk Membakar Sampah Bagi Kesehatan dan Lingkungan, Sebabkan Kanker
Belum Deal, DKI Ingin Win-Win Solution Pengelolaan Sampah dengan Pemkot Bekasi