Pak Raden dan liku-liku cerita 'Si Unyil'
Si Unyil merupakan karakter boneka yang diciptakan Drs Suyadi, atau yang dikebal dengan sebutan Pak Raden sejak 1978.
Si Unyil merupakan karakter boneka yang diciptakan Drs Suyadi, atau yang dikebal dengan sebutan Pak Raden sejak 1978.
Berdasarkan Wikipedia, Si Unyil tayang di Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang merupakan satu-satunya stasiun TV saat itu sejak 5 April 1981. Si Unyil tayang di TVRI selama 12 tahun hingga 1993.
Kemudian Si Unyil pindah tayang ke RCTI mulai 2002 hingga pertengahan 2003. Kemudian pindah ke TPI dari pertengahan 2003 hingga akhir 2003.
Tayangan Si Unyil merupakan acara favorit anak-anak di tahun 80-an dan 90-an. Ditayangkan di TVRI secara rutin setiap minggu pagi pukul 08.00 WIB.
Si Unyil saat ditayangkan TVRI hanya akan berubah jam tayang bila ada liputan khusus Presiden Soeharto ataupun siaran langsung perebutan gelar juara dunia tinju kelas berat.
Menurut Suyadi, di masa Orde Baru, tayangan Si Unyil selalu berdasarkan tema yang diberikan negara. "Apakah itu kesehatan atau bicara ABRI masuk desa misalnya," katanya, seperti ditulis antara Minggu (14/4).
Dalam Si Unyil, Suyadi setidaknya menciptakan berbagai karakter boneka. Mulai dari Si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, Bu Bariah, Ableh, Meilani, Cuplis, Usro, Ucrit, Kinoi hingga Ibu Unyil.
Karakter Pak Ogah bahkan kemudian diadopsi namanya dalam kehidupan sosial. Pak Ogah memiliki karakter pemalas dan selalu minta uang bila membantu.
Ungkapan Pak Ogah yang terkenal bila mau membantu, "Cepek (Rp 100) dulu." Nama Pak Ogah ini kemudian disematkan kepada para pengatur lalu lintas dadakan di pertigaan-pertigaan jalan. Nama ini diberikan karena mereka biasanya meminta uang.
Suyadi sendiri memilih karakter Pak Raden untuk diperankannya. Pak Raden merupakan seorang yang sering marah-marah kadang dengan menggunakan bahasa Belanda, pelit namun juga baik hati.
Boneka Si Unyil tidak hanya sukses di televisi. Berbagai boneka Si Unyil juga dijual. Begitu pula adanya iklan yang menggunakan karakter Si Unyil, buku-buku maupun makanan.
Namun sayang, meski Suyadi yang menciptakan Si Unyil, dirinya mengaku tidak pernah menikmati royalti hasil jerih payahnya itu.(mdk/war)