Nestapa para keluarga korban penyanderaan kelompok Abu Sayyaf
Kelompok Abu Sayyaf meminta tebusan uang sejumlah 50 Peso, atau sekira Rp 15 miliar.
10 WNI disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Hingga saat ini, upaya pembebasan para sandera masih terus dilakukan. Negara mengerahkan pasukan dan armada militer, sementara pihak perusahaan PT Patria Maritime Lines bernegosiasi. Rinaldi (25), salah satu dari sepuluh pelaut Indonesia disandera kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina, saat kapalnya berlayar melewati perairan Tawi-tawi, sempat menitipkan pesan. Menurut paman Rinaldi, Irwan (42), mengaku tidak bisa melupakan permintaan keponakannya itu. Peter Tonsen Barahama, kapten kapal Brahma 12 yang menjadi salah satu korban penyekapan oleh kelompok perompak Abu Sayyaf dikenal sebagai kapten yang periang. Keluarga Bayu Oktavianto salah satu dari 10 WNI yang disandera kelompok terorisme, Abu Sayyaf di Filipina berharap pemerintah membantu menyelamatkan anak dan seluruh kru kapal. Dia mengaku belum ada perwakilan Pemkab Klaten atau pemerintah yang datang atau memberikan kabar soal putranya. Keluarga Peter Tonsen Barahama, nakhoda kapal Pandu Brahma 12 yang dibajak kelompok Abu Sayyaf memiliki firasat buruk sebelum kejadian. Sopitje Salemburung, ibu Peter, mengatakan sebelum kapal anaknya dibajak pada Sabtu (26/3) pekan lalu, ayah Peter jatuh sakit.
Kelompok Abu Sayyaf meminta tebusan uang sejumlah 50 Peso, atau sekira Rp 15 miliar. Beredar informasi, bahwa pihak perusahaan sudah menyetujui nilai tebusan. Namun ketika dikonfirmasi ke PT Patria, belum ada jawaban pasti.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menjelaskan tebusan itu bukanlah menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab PT Patria Maritime Line.
"Ya kita enggak bisa (berikan uang tembusan), saya kira kita enggak masuk dari situ. Itu serahkan saja pada pihak perusahaan yah," kata Badrodin di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (30/3).
Keluarga korban para sandera ini pun berduka. Berikut kesaksian para kerabat korban penyanderaan kelompok Abu Sayyaf:Rinaldi peduli pendidikan keluarga
"Om...kasih sekolah adik-adikku.' Lalu kepada anak-anak saya, adik sepupu Rinaldi, dia bilang, 'sekolah kau baik-baik, nanti kukasih naiko kapal," kata Irwan menirukan ucapan keponakannya itu, saat ditemui di rumahnya, di Jalan Tinumbu, lorong 132 J, Nomor 12, RW 6 RT 3, Kelurahan Layang, Kecamatan Bontoala, Makassar, Rabu (30/3).
Menurut Irwan, Rinaldi mulai berlayar sejak dua tahun silam. Jika kembali dari berlayar, Rinaldi pasti menyempatkan diri ke rumahnya, dan juga keluarga lain di Jalan Tarakan. Sebab, orangtua Rinaldi bermukim di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
"Semoga apa yang disampaikan keponakan saya itu bukan yang terakhir, karena kami di sini berharap pemerintah bisa menyelamatkan keponakan kami dalam kondisi sehat wal afiat, bersama pelaut-pelaut lain yang disandera itu," ucap Irwan.
Rinaldi bekerja menjadi pelaut buat membantu kehidupan keluarganya yang terbilang kurang mampu. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Wotu, dia merantau ke Makassar dan tinggal di rumah bibinya, Hamsiar (47), merupakan kakak kandung ayah Rinaldi. Di Makassar, Rinaldi bekerja buat menghidupi diri sendiri dan keluarga dari uang hasil keringat yang disisihkan.Si Nakhoda kapal yang periang
Tiga kali melaut melewati Filipina Selatan, daerah kekuasaan Abu Sayyaf , nasib buruk pun menimpanya dan seluruh kru kapal. Sepuluh orang termasuk Peter hingga kini belum diketahui kabarnya.
Peter adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Tak mempunyai seorang adik membuat dia cukup dekat dengan sepupunya, Hendrik Sahabat (24). Hendrik juga seorang pelaut seperi Peter.
"Suka bergaul, bercanda, dan suka juga nge-bully. Apa lagi kumpul bareng di rumah (di Batam)," kata Hendrik kepada wartawan, Selasa (29/3).
Walau tak pernah merasakan bagaimana melaut bersama Peter, Hendrik cukup sering mendengar kisah Peter selama menjadi kapten kapal.
"Hampir enggak pernah bentak-bentak begitu. Dia bilang semuanya dibawa enjoy aja, biar sama-sama enak di kapal," ungkapnya.
Peter lahir di Sangir, Sulawesi Utara 8 November 1985. Menjadi nahkoda kapal Brahma 12 sejak Januari 2015.
"Januari 2015 dia meninggalkan Batam. Kapal dari Batam. Dibikin di sini. Baru ke Banjarmasin," ungkap keluarga Peter lainnya.
Keterangan dari keluarganya, kejadian ini adalah kejadian pertama dialami Peter selama melaut. Sebelum mengenyam pendidikan di STIP Jakarta, dari kecil Peter sudah melaut.
Sehari sebelum Brahma 12 dan Anan 12 dibajak, Peter sempat memberi kabar kepada Hendrik bahwa sedang dalam perjalanan menuju Filipina.
"Rabu malam tanggal 23, pukul 20.32 WIB kasih tahu kabar lagi dalam perjalanan," kata Hendrik sambil memperlihatkan log panggilan di telpon genggamnya.
Peter selama ini tinggal bersama abang kandungnya yang juga pelaut di komplek Muka Kuning Paradise, blok J nomor 8, Batam, Kepulauan Riau.Bayu berencana menikah tahun depan
"Baru perusahaan yang telepon, dari pemerintah belum ada yang menghubungi," ujar Sutomo, ayah kandung Bayu, saat ditemui di rumahnya Dukuh Miliran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (29/3).
Terkait kepergian Bayu ke Filipina, Sutomo mengaku, jika anaknya tersebut telah berpamitan sebelum berangkat. Anaknya yang telah 3 tahun bekerja sebenarnya pernah melakukan perjalanan yang sama. Saat itu semuanya lancar tanpa ada halangan. Namun saat kedua kalinya sejumlah kelompok separatis menyandera dia dan 9 ABK lainnya.
"Dua minggu sebelum peristiwa pembajakan anak saya telepon. Minta pangestu (doa restu) akan berangkat Filipina," katanya.
Sutomo menambahkan keluarga tidak ada firasat apapun sebelum peristiwa pembajakan terjadi. Sebelum berangkat, kata Sutomo kapal yang ditumpangi anaknya masih sandar di Banjarmasin.
"Ya sekarang ini saya hanya bisa memantau perkembangan dari media," pasrahnya.
Susanti (22) kekasih Bayu nampak terpukul dengan peristiwa tersebut. Ia hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah bisa membebaskan Bayu dan 9 ABK lainnya. Susanti mengaku telah berencana menikah dengan Bayu tahun depan.
"Sebenarnya kami berencana menikah tahun depan," tutupnya.Keluarga nakhoda mendapat firasat
"Waktu itu saya sempat bertanya dalam hati, anak yang keberapa lagi yang akan sakit karena kebiasaan keluarga jika orang tua sakit pasti ada anak yang akan sakit. Ternyata Peter yang mengalami musibah," jelasnya saat ditemui di rumah keluarga yang berada di Kelurahan Molas Lingkungan V, Kecamatan Bunaken, Manado, Selasa (29/3).
Bersama suaminya Charlos Barahama, keduanya terlihat terpukul dengan peristiwa yang menimpa anak mereka. Foto Peter terus dipandangi keduanya dengan sendu. Keduanya berharap anaknya bersama 9 awak kapal lainnya dapat segera dibebaskan dengan selamat. "Kami berharap perhatian serius dari pemerintah untuk dapat segera membebaskan anak kami dengan selamat," ujar Charlos Barahama.