Nasib Janda Veteran di Makassar, Rumah Pernah Digusur
Momen HUT ke-77 Republik Indonesia (RI) dirayakan seluruh masyarakat. Meski demikian ada seorang janda veteran di Makassar Alm Lettu (purn) Andi Djemma, Mariam (77) yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Momen HUT ke-77 Republik Indonesia (RI) dirayakan seluruh masyarakat. Meski demikian ada seorang janda veteran di Makassar Alm Lettu (purn) Andi Djemma, Mariam (77) yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Mariam menjelaskan suaminya wafat pada tahun 2009. Sejak suaminya meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, tidak pernah lagi mendapatkan bantuan saat momen peringatan Hari Kemerdekaan.
"Dulu waktu bapak masih hidup, masih dapat bantuan. Tapi setelah meninggal tidak ada," ujarnya kepada wartawan, Rabu (17/8).
Ia mengaku dirinya selama ini hanya mengandalkan uang pensiunan suaminya sebesar Rp1,75 juta. Meski jumlahnya kecil, Nenek 20 cucu ini mengaku mencukupkan hanya untuk kebutuhan sehari-hari.
"Dana pensiunan dibilang cukup tidak cukup, dibilang cukup ya dicukup-cukupkan. Orang bilang, gali lubang tutup lubang," candanya.
Kesusahan Mariam tidak hanya di situ, bahkan rumahnya di Perumahan Swadaya Mas pernah digusur. Beruntung, Wali Kota Makassar pada saat itu Amiruddin Maula memberikan bantuan rumah kepada keluarganya.
"Sudah digusur di muka (Perumahan Swadaya Mas). Pindah ke sini dan alhamdulillah kita dapat tanah 50 meter dari Pak Wali Kota (Amiruddin Maula)," tuturnya.
Meski demikian, surat kepemilikan tanah hingga saat ini belum dirinya pegang. Ia menyebut surat tanah masih di Bagian Pertanahan Pemkot Makassar.
"Katanya surat-suratnya sudah diurus Bagian Pertanahan," kata dia.
Mariam mengaku dirinya satu-satunya janda veteran yang masih hidup dan tinggal di Kompleks Veteran di Jalan Swadaya, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala. Ia berharap pemerintah bisa memperhatikan keluarga para veteran yang pernah berjuang demi kemerdekaan.
"Rumah juga sudah bocor-bocor dan sering kebanjiran. Ada bingkisan didapat dari (pemerintah Belanda) untuk korban 40 ribu jiwa (kekejaman Westerling) setiap tanggal 11 Desember," sebutnya.
Maryam mengaku sudah beberapa orang mendatangi rumahnya untuk diajukan mendapatkan program bedah rumah. Hanya saja, sampai saat ini tidak pernah terealisasikan.
"Kalau boleh rumah diperbaiki atau bedah rumah. Sudah ada beberapa orang masuk (survei), tapi belum rezeki," kata dia.
Maryam menceritakan sosok suaminya yang pendiam tetapi tegas. Selain itu, oleh warga sekitar, suaminya dikenal baik.
"Beliau itu pendiam, tapi disenangi warga di sini karena baik orangnya. Kalau ada bantuan juga beliau selalu langsung berikan," kenangnya.
Maryam mengaku suaminya mendapatkan 12 piagam dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Tidak hanya, itu penghargaan juga pernah didapatkan dari mantan Menteri Pertahanan Djuanda, AH Nasution, dan Wiranto.
(mdk/bal)