Museum Sri Baduga Bandung akui keberadaan ranjang giok Dinasti Ming
Ranjang giok tersebut statusnya dititipkan oleh pemilik untuk disimpan dan dirawat oleh pihak museum.
Petugas administrasi Museum Sri Baduga Bandung, Yoyoh membenarkan bahwa di museum tersebut terdapat ranjang giok peninggalan Dinasti Ming.
Yoyok mengatakan, ranjang giok tersebut statusnya dititipkan oleh pemilik untuk disimpan dan dirawat oleh pihak museum.
"Iya ada, itu bentuknya titipan kalau enggak salah," kata Yoyoh saat dihubungi merdeka.com, Senin (20/4).
Meski Yoyoh mengaku tidak mengetahui pemilik ranjang giok tersebut, namun dirinya mengetahui bahwa ranjang giok tersebut belum lama dipindahkan dari museum di Solo. "Belum lama (dititipkan di museum). Dulu kalau gak salah dititipin dari Solo. Tapi saya kurang tahu pemiliknya," tutur Yoyoh.
Terkait rencana pemilik yang akan memotong ranjang giok tersebut untuk dijadikan akik, Yoyoh mengaku belum mendapat kabar dari sang pemilik, Ghani Wido Utomo. "Belum, belum ada pihak keluarga yang menghubungi," ucap Yoyoh.
Sebelumnya, seorang pecinta sejarah, Kurniawan sedang berupaya mencegah ranjang batu giok peninggalan abad ke 14 dipotong-potong oleh pemiliknya untuk dijadikan batu akik. Kurniawan memaparkan, ranjang giok ini merupakan simbol eksistensi peninggalan sejarah budaya China di Indonesia.
"Menurut sejarah, ranjang ini dibuat pada abad ke 14 (masa) Dinasti Ming kekaisaran Chenghua," tutur Kurniawan kepada merdeka.com, Senin (20/4).
Kurniawan menggambarkan ranjang giok ini bermotif Naga dan burung Hong (phoenix). Menurut budaya China, Naga dan Burung Hong melambangkan perdamaian serta pertanda baik atau nasib baik.
Ranjang giok ini konon hanya ada 2 atau sepasang di dunia. Sepasang ranjang ini merupakan simbol raja dan ratu. "Ini hadiah untuk putri raja Chenghua yang menikah dengan salah satu wali di Indonesia (Sunan Gunung Jati). Dibuat sepasang, King and Queen. Yang King lebih berat dari yang Queen. Nah ini yang King. Satunya lagi dimiliki keluarga Cendana," jelas Kurniawan.(mdk/siw)