LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Museum Aceh digitalisasi 510 Manuskrip kuno bersejarah

Digitalisasi terhenti karena kerja sama dengan Jerman berakhir. Selain itu, biaya digitalisasi juga mahal.

2015-03-25 10:27:00
Aceh
Advertisement

Guna mempermudah masyarakat yang membutuhkan naskah kuno untuk dipelajari, baik untuk kepentingan pribadi maupun pendidikan, Pemerintah Aceh telah mendokumentasikan 510 naskah kuno dalam format digital yang ada di Museum Aceh sejak tahun 2008. Tentunya ini akan bisa menjaga dan menghindar terjadi kerusakan naskah kuno tersebut.

Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Aceh, Edeh Warningsih mengatakan, baru sebagian koleksi naskah kuno museum yang telah dilakukan digitalisasi. Dia mencatat ada 1.700 naskah yang tersimpan di museum daerah tersebut.

"Itu bukan 500 judul, tapi ada naskah dengan judul yang sama dan yang sudah terdigitalisasi ini ada 510 naskah, dan ini semua koleksi museum yang kita digitalkan," kata Edeh Warningsih di Banda Aceh, Rabu (25/3).

Proses digitalisasi ini sudah dilakukan sejak tahun 2008 lalu bekerja sama dengan pemerintah Jerman. Akan tetapi proses tersebut terhenti karena kerja sama antar kedua belah pihak sudah berakhir pada tahun 2010. Sehingga pihak museum tidak bisa melanjutkan program ini karena tidak memiliki alat pendukung.

"Kita sebetulnya mau mendigitalkan semua, tapi kita tidak ada alat scanner-nya, itulah kendalanya," jelas Edeh.

Jika ada orang yang mau mencari naskah, seperti peneliti yang datang ke Museum Aceh, dia mengatakan pihaknya terpaksa memberikan naskah asli dalam bentuk fisiknya. Tentunya pihak petugas museum tidak memperbolehkan dibawa pulang, akan tetapi hanya boleh dibaca dan dipelajari di museum.

"Tapi jika ada judul yang sudah ada didigital maka kita kasih yang bentuk digital," katanya.

Manuskrip kuno yang berada di museum ini sendiri, ungkapnya ada dalam kondisi utuh atau dalam bentuk isinya saja. Dalam proses pemeliharaan atau restorasi naskah kuno ini, Edeh Warningsing mengatakan saat ini beberapa naskah sudah direkatkan kembali menggunakan kertas dan lem khusus.

Namun karena mahalnya pembelian kertas dan lem khusus tersebut, dia mengatakan pihaknya memberikan cengkeh dan kapur barus agar kertas-kertas manuskrip tersebut tidak dimakan rayap.

"Untuk saat ini kita berikan cengkeh atau kapur barus. Kita bersihkan juga debu-debu yang ada di situ," jelasnya.

Baca juga:
Ini bom 455 kg masa PD II yang bikin ribuan warga Inggris dievakuasi
Menelusuri markas rahasia Nazi di hutan belantara Argentina
Menelusuri Kherkoff, makam ribuan tentara Belanda yang tewas di Aceh
Ini kisah agama Islam bisa mencapai Bangsa Viking
Kebakaran dahsyat lahap situs warisan dunia UNESCO di Rusia

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.