LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Mulai hari ini, Jakarta krisis tahu dan tempe!

Sebagai protes atas kenaikan harga kedelai, pengrajin tahu tempe mulai menghentikan produksi sejak hari ini.

2012-07-25 07:04:00
Krisis kedelai
Advertisement

Bagi Anda yang gemar menyantap tahu dan tempe sebagai teman makan, mau tidak mau selama tiga hari ke depan menu itu harus absen dari piring Anda. Sebab, dua jenis panganan murah meriah itu sedang sulit dijumpai di pasar tradisional maupun warung kelontong menyusul para produsen yang memilih stop produksi sementara.

Mogoknya produsen tahu tempe sebagai bentuk protes mereka pada pemerintah yang tak kunjung berhasil menstabilkan harga kacang kedelai yang menjadi bahan baku utama membuat tahu dan tempe. Alhasil, tingginya harga kedelai membuat mereka terus merugi.

Ratusan produsen tahu dan tempe yang tergabung dalam Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia maupun Koperasi Perajin Tempe Tahu Indonesia (Kopti) mulai menyetop produksi mereka sejak awal minggu ini. Sejak hari itu pula distribusi tahu tempe ke pasar-pasar maupun pelanggan yang sebagian besar pedagang gorengan mulai berkurang.

Bahkan mulai hari ini, Rabu (25/7) sampai Jumat (27/7) mereka memastikan benar-benar menyetop produksi dari pada tak sanggup menanggu kerugian. Bukannya untung, pedagang malah terus buntung sejak awal Juli lalu.

"Kalau tidak produksi itu sudah sejak Senin kemarin, kalau mulai tidak dagangnya Rabu besok. Habisnya kalau pun dijual nggak cukup untuk modal kita," cerita Hajah Mahbobah, seorang pengusaha tempe bermerek Tempe Supra yang berlokasi di Mampang Prapatan, saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (24/7) kemarin.

Ancaman mereka tidak sampai di situ saja. Jika aksi protes selama tiga hari ini tidak ditanggapi, maka para produsen tahu tempe akan turun ke jalan usai lebaran nanti. Kalau sampai itu terjadi, artinya aksi yang sama pada tahun 2008 lalu kembali terulang.

Sebenarnya pemerintah sudah mencoba membujuk para produsen untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Namun, pemerintah juga pasrah, karena tak punya kekuatan untuk mengintervensi langsung agar harga kedelai impor stabil. Ke depannya pemerintah akan menambah peran Perum Bulog untuk menjadi penyangga stabilisasi harga kedelai saat fluktuasi.

"Karena yang ditugaskan ke Bulog hanya beras. Memang idealnya ke depan, memerankan Bulog untuk menyangga tidak hanya beras. Itu penting dalam situasi kedepan harga-harga pangan pokok yang bisa terjadi fluktuasi," ujar Menteri Pertanian Suswono di Istana Presiden, Selasa (24/7) kemarin.

Dia mengatakan kenaikan harga kedelai akan memberikan gairah pada petani, karena selama ini harga kedelai impor terlalu rendah. Yang membuat harga kedelai dalam negeri petani ini tidak kompetitif dengan produk impor.

"Memang idealnya harga kedelai di petani sekitar Rp 8.000, petani akan bergairah menanam kedelai," katanya.

Dia mengakui saat ini produksi kedelai lokal masih rendah atau kecil. Padahal saat ini, kebutuhan nasional untuk kedelai mencapai 2,4 juta ton per tahun. Sementara produksi nasional hanya 600.000 ton per tahun. Sehingga kebutuhan impor mencapai 1,8 juta ton per tahun.

Dari 2,4 juta ton tersebut kebutuhan untuk produksi tahu dan tempe mencapai 80 persen. Paling tidak kebutuhan untuk konsumsi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi mencapai 10.000 ton per bulan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan pemerintah menghadapi situasi ini? Sebab tentu hasrat rakyat Indonesia untuk bisa tetap menikmati tahu dan tempe juga tak bisa dihalangi.(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.