MUI Sebut Puasa di Bali Tidak Hanya Menahan Haus, Tetapi juga Godaan Turis
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Denpasar Syaifuddin Zaini menilai puasa di Bali lebih banyak pahalanya ketimbang di Jawa. Karena di sana tantangannya sangat banyak.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Denpasar Syaifuddin Zaini menilai puasa di Bali lebih banyak pahalanya ketimbang di Jawa. Karena di sana tantangannya sangat banyak.
"Malah saya bilang puasa di Bali ini nanti pahalanya lebih banyak dibanding puasa di Jawa. Karena di Bali tantangannya lebih banyak. Apalagi para pelaku wisata, sopir taksi yang puasa yang jualan di Pantai Kuta, itu tidak saja menahan haus tapi juga melihat wisatawan-wisatawan yang pakaiannya kadang (menggoda) itu juga godaan, tapi kita bisa tabah," kata Syaifuddin kepada wartawan, Senin (6/5).
Dia mengimbau kepada umat Islam di Bali untuk menjalani bulan Ramadan sesuai dengan substansinya. "Puasa itu imsak, imsak itu menahan. Sehingga umat Islam harus lebih banyak menahan dan mengendalikan," ucapnya.
"Mengendalikan dari kemauan-kemauan yang buruk. Demikian juga supaya puasa di Bali ini jangan gila hormat dan jangan terlalu menuntut banyak orang untuk menghormatinya," tambah Syaifuddin.
Syaifuddin juga menjelaskan, karena bulan Ramadan di Bali ini lebih banyak yang tidak puasa. Karena lebih banyak yang tidak puasa jangan menuntut untuk dihormati.
"Biarkan saja orang yang tidak berpuasa siang hari makan. Warung-warung silakan buka. Jangan kemudian kita ingin warung-warung ditutup. Kalau mereka tidak puasa iya biarkan saja," jelasnya.
Baca juga:
Kenikmatan Buka Puasa Bersama di Masjid Istiqlal
Berburu Menu Takjil di Hari Pertama Ramadan
Jokowi Gelar Buka Puasa Bersama dengan Pimpinan Lembaga Negara
Selama Ramadan, PNS di Banten Bekerja Pukul 06.00-12.30 WIB
Tadarus Massal Santri Isi Ramadan di Pondok Pesantren di Medan