LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Mudik dan kebiasaan turun temurun masyarakat Indonesia

Fenomena mudik erat kaitannya dengan momentum Lebaran. Ini dimulai sekitar pertengahan dasawarsa 1970-an.

2016-07-02 07:00:00
Arus Mudik
Advertisement

Mudik merupakan fenomena sosial di masyarakat Indonesia, yang terjadi menjelang hari raya keagamaan, terutama pada Lebaran. Hal ini menjadi ciri khas sebagai bentuk partisipasi para perantau. Mereka tentu harus bersilaturahmi kepada sanak famili mereka di kampung halaman.

Kata 'mudik' itu sendiri memiliki makna 'kembali ke udik', atau pulang ke kampung. Kata udik di sini umumnya memang mengacu pada suatu daerah di kawasan pedesaan atau perkampungan. Dalam kata lain merupakan asal daerah bagi para pemudik tersebut.

Fenomena mudik erat kaitannya dengan momentum Lebaran. Ini dimulai sekitar pertengahan dasawarsa 1970-an. Kala itu, ketika Jakarta tampil sebagai ibu kota mengalami kemajuan pembangunan pesat, membuat banyak masyarakat di Indonesia datang ke ibu kota. Tentu saja tujuan mereka untuk mengadu nasib.

Hingga hari ini, mudik telah menjadi bagian dari budaya tahunan sejumlah masyarakat Indonesia,. Kondisi ini sekaligus pencapaian bagi para perantau dalam mengukur tingkat kesuksesan mereka mengadu nasib di ibu kota. Dengan mudik ini, tercipta semacam siklus untuk pergi berjuang dan kembali pulang kepada keluarga.

Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar mengatakan, fenomena mudik ini diawali dengan terjadinya urbanisasi untuk mengadu nasib di kota. Hal itu umumnya dilakukan demi mencapai tatanan hidup lebih baik.

"Sejak terjadi urbanisasi, sejak pembangunan di kota-kota bisa memberikan lapangan pekerjaan, sejak orang desa pergi ke kota karena kota menjanjikan hidup lebih baik, maka ramailah orang desa ke kota untuk mencari pekerjaan," ujar Musni saat dihubungi merdeka.com, Jumat (1/7).

"Hal inilah yang kemudian mengajak orang desa untuk pergi ke kota, lalu setelah berhasil mereka ingin kembali ke desa (mudik). Dan itu sudah menjadi tradisi, serta bagian kehidupan bangsa Indonesia yang terjadi sampai saat ini," katanya menambahkan.

Musni Umar pun mengatakan, pola berjuang di kota dan kembali pulang ke desa ini juga menimbulkan sejumlah dampak sosial. Biasanya berupa penyatuan kembali tatanan keluarga setelah berpisah karena kepentingan berlatar finansial.

Lebaran dan mudik menjadi semacam solusi. Ini guna menunjukkan bagaimana perjuangan para perantau untuk kembali ke keluarga.

"Dampak sosialnya itu adalah reintegrasi atau penyatuan kembali masyarakat desa yang sudah lama tinggal di kota, yang pada saat lebaran itu mereka pulang lagi dan merekatkan kembali hubungan keluarga, serta mempersatukan kembali keluarga besarnya dalam tali silaturahim," kata Musni.

Baca juga:
Berkah musim mudik bagi pengamen cilik
Arus mudik jalur Cikarang macet total
Ribuan kendaraan membeludak di Pelabuhan Merak
Aksi Kapolda Banten tegur pemudik motor yang bawa dua anak
Tol Cikampek macet, sistem lawan arus diberlakukan
Penampakan ribuan kendaraan terus padati Pelabuhan Merak

Advertisement
(mdk/ang)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.