MPR Dorong Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Ancaman Dampak Perubahan Iklim di Indonesia
MPR RI menekankan pentingnya membangun kesiapsiagaan masyarakat dan mitigasi bencana sebagai dasar kebijakan menghadapi ancaman dampak perubahan iklim yang semakin nyata di Indonesia.
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyerukan pentingnya membangun kesiapsiagaan masyarakat dan mitigasi bencana. Hal ini krusial sebagai fondasi kebijakan dalam menghadapi ancaman dampak perubahan iklim di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Lestari dalam diskusi daring Forum Diskusi Denpasar 12 pada Rabu (26/11). Ia menekankan bahwa anomali iklim dapat memicu kekeringan atau hujan lebat yang berdampak signifikan pada cuaca nasional.
Kondisi ini harus diantisipasi dengan kebijakan yang tepat guna melindungi setiap warga negara. Upaya ini sejalan dengan amanat konstitusi UUD 1945 terkait perlindungan terhadap seluruh rakyat Indonesia.
Dampak Nyata Perubahan Iklim dan Urgensi Mitigasi
Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menyoroti sejumlah peristiwa iklim ekstrem yang terjadi di Indonesia. Peningkatan frekuensi hujan lebat dan panas memicu siklon tropis, mempengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah. Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak perubahan iklim yang sedang terjadi.
Perubahan pola hujan yang tidak menentu telah mengganggu kalender tanam nasional secara signifikan. Akibatnya, beberapa wilayah seperti Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat mengalami gagal panen. Situasi ini mengancam ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di daerah tersebut.
Menanggapi kondisi ini, Rerie berharap data dan prediksi dari lembaga seperti BMKG dapat menjadi acuan penting. Institusi terkait diharapkan mampu mempersiapkan mitigasi bencana yang tepat untuk menghadapi ancaman perubahan cuaca. Peningkatan kepedulian masyarakat terhadap data cuaca juga harus konsisten ditingkatkan.
Peningkatan Emisi dan Ancaman Bencana Hidrometeorologi
Pelaksana Harian Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Fachri Radjab, menegaskan bahwa BMKG terus memonitor indikator perubahan iklim. Data World Economic Forum 2025 menunjukkan bahwa suhu muka bumi akan terus meningkat dalam sepuluh tahun ke depan. Ancaman gelombang panas di berbagai wilayah menjadi semakin nyata dan perlu diwaspadai.
Fachri mengungkapkan bahwa emisi CO2 di Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan. Bila pada tahun 2004 tercatat 373 ppm, jumlah emisi CO2 di Indonesia pada tahun 2024 melonjak menjadi 418 ppm. Kenaikan emisi ini berpotensi mengakibatkan kekurangan air di sejumlah wilayah.
Kekurangan air tersebut dapat mengganggu sektor vital seperti pertanian dan kesehatan. Data cuaca dan iklim yang akurat sangat diharapkan dapat menjadi acuan bagi para pengambil keputusan. Hal ini penting untuk menyikapi berbagai ancaman perubahan iklim yang semakin kompleks.
Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo, menambahkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia masuk kategori ancaman bencana sedang hingga tinggi. Tren jumlah bencana setiap tahun semakin meningkat, didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Hal ini menggarisbawahi urgensi kesiapsiagaan masyarakat.
Membangun Kesadaran dan Ketanggapan Masyarakat
Dengan kondisi ancaman bencana yang tinggi, Agus Wibowo mengharapkan bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang tanggap bencana. Masyarakat yang memiliki kesadaran dan tanggap terhadap bencana dapat menekan potensi kerugian dan korban jiwa. Program-program untuk membangun sikap tanggap bencana dari pemangku kepentingan perlu ditingkatkan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, berbagi pengalamannya dalam membangun kesadaran warganya. Kesadaran ini terkait potensi risiko aktivitas sesar Lembang yang mengancam wilayahnya. Kondisi kontur Kota Bandung yang bervariasi menuntut pemahaman tinggi masyarakat terhadap dampak bencana.
Peningkatan pemahaman dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci dalam upaya mitigasi. Dengan demikian, risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan potensi bencana dapat diminimalisir. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencapai tujuan ini.
Sumber: AntaraNews