Menyusuri jejak Belanda-Jepang saat perang dunia ke II di Tarakan
Tak banyak yang tahu kota Tarakan ternyata tempat pertama kali Jepang singgah di Indonesia.
Kota Tarakan, Kalimantan Utara memiliki luas lebih dari 250 kilometer persegi. Namun, tak butuh waktu lama untuk menyusuri kota berpenduduk 239.787 jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010.
Meski wilayah kota Tarakan tak begitu luas, namun banyak pelajaran yang bisa diambil dari kota ini. Khususnya, mengenai sejarah datangnya tentara Jepang bersamaan dengan perang dunia ke-II.
Menurut cerita warga sekitar, Pantai Amal menjadi tempat pertama kali Jepang mendarat di Indonesia meski saat itu ada pihak Belanda. Mendapatkan ladang minyak adalah tujuan mereka ketika itu.
merdeka.com pun mendapat kesempatan mengelilingi Kota Tarakan dan memperoleh sedikit penjelasan mengenai sejarah kota tersebut.
"Ya memang di Pantai Amal itu pertama kali Jepang mendarat. Mereka tentu mengejar minyak," ujar Kasi Dokumentasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Tarakan Jhones Calvin yang menemani tim merdeka.com mengelilingi Kota Tarakan, akhir pekan lalu.
Dia pun bersedia menunjukkan sejumlah lokasi yang hingga kini masih tersisa bukti peninggalan dari proses pendudukan Belanda dan Jepang ketika berada di Tarakan dan tetap terjaga keberadaannya.
Rumah Bundar
Rumah Bundar menjadi lokasi yang disebut-sebut bekas barak prajurit perang ketika itu. Disebut rumah bundar ialah karena model bangunannya yang membentuk setengah lingkaran.
Rumah bundar ©2015 Merdeka.com
Di Jalan Danau Jempang, Kota Tarakan ada sejumlah rumah bundar. Satu di antaranya milik Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan yang kini menjadi museum dengan berbagai macam koleksi benda sejarah seperti peluru, baling-baling pesawat, hingga sepatu peninggalan tentara Jepang.
"Di sini (Jalan Jempang) dahulunya merupakan kompleks barak bagi tentara mereka," terang pria yang akrab disapa Jhon ini.
Kini rumah itu masih berdiri tegak dan akan terus dikembangkan Pemkot Tarakan sebagai museum sejarah yang dimiliki kota tersebut.
Pompa angguk
Tak terlalu jauh dari Rumah Bundar, terdapat puluhan pompa angguk yang hingga kini masih bisa digunakan. Di mana pompa ini sudah beroperasi sejak zaman Belanda dan terus dilestarikan.
Pompa-pompa ini dapat ditemui tak jauh dari pusat Kota Tarakan. Mereka memiliki jarak yang tak saling berjauhan sehingga layaknya sebuah kompleks perminyakan.
"Ini sudah dari zaman Belanda, banyak yang masih aktif. Ada juga yang memang sudah tidak beroperasi, tapi inilah peninggalan mereka," kata Jhon.
Jhon juga melihatkan beberapa pondasi tiang yang menjulang ke atas seperti tower operator seluler di mana dahulunya juga beroperasi sebagai pompa untuk mendapatkan hasil bumi.
"Bukan sebagai tower, tapi dahulunya juga beroperasi sama menggali. Kalau lihat malam hari sangat bagus karena berwarna. Banyak yang tengah diperbaiki Pemkot karena besinya mulai lapuk," terangnya.
Tak sampai di situ, masih di sekitar kawasan yang sama terdapat sebuah tangki warna hitam bertuliskan 'Wash Tank'. Tangki ini penyok hampir di seluruh bagian atasnya akibat di bom oleh tentara Jepang.
"Wash tank itu dibom dari atas pesawat. Sayang kita tak bisa mendekat karena sedang ada pembangunan di sekitarnya," cerita Jhon sambil menunjukkan lokasi tanki itu.
Bandar Udara Juwata
Selanjutnya, Bandar Udara (Bandara) Juwata yang letaknya hanya 10 menit dari pusat Kota Tarakan. Bandara ini sudah aktif sejak lama. Bahkan keberadaannya juga sejak masa pendudukan Belanda.
Ya, Belanda memang yang membangun bandara sekaligus sebagai pangkalan militer. Tiga tahun jelang kemerdekaan RI tentara Jepang mendarat di bandara ini untuk merebut pemerintahan Hindia-Belanda.
"Sekarang kondisinya sudah bagus, kalau dahulu tidak seperti ini," lanjut Jhon.
Dengan waktu singkat kami bisa menelusuri sebagian sejarah Kota Tarakan khususnya saat kependudukan Belanda dan masuknya Jepang. Masih banyak tempat dan peninggalan lainnya yang bisa dikunjungi.