LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Menunggu beduk Magrib sambil bermain di Taman Bungkul Surabaya

Dari fasilitas olah raga, hiburan, hingga kuliner khas Surabaya, semua tersedia di Taman Bungkul.

2013-07-13 09:07:00
Ramadan 2013
Advertisement

Sejak diresmikan pada 21 Maret 2007, Taman Bungkul Surabaya, Jawa Timur menjadi tempat tujuan muda-mudi untuk untuk kongkow, termasuk saat bulan puasa Ramadan. Di area sekitar 900 meter persegi dan dilengkapi fasilitas pendukung seperti amfiteater dengan diameter 33 meter ini, menjadi tempat singgah bagi warga Surabaya saat menunggu beduk magrib atau istilah zaman sekarang 'ngabuburit.'

Di area yang terletak di depan kawasan religi Sunan Bungkul dan terletak di jantung Kota Surabaya tersebut, tepatnya di Jalan Darmo, juga menyediakan sarana --hampir bisa dibilang komplit-- seperti skateboard track dan BMX track, jogging track, panggung untuk live performance berbagai jenis entertainment, zona akses wi-fi gratis, area green park dengan kolam air mancur, taman bermain anak-anak hingga pujasera dan centra PKL.

Dan hampir setiap hari, khususnya Sabtu malam dan hari Minggu, tempat ini selalu ramai pengunjung. Pun begitu dengan rombongan ziarah Wali Songo, tempat ini juga menjadi persinggahan. Karena sebelum menjadi area wisata bermain, tempat ini terdapat makam Sunan Bungkul, yang juga menjadi tokoh Islam berpengaruh di Surabaya.

Jadi tak salah, jika di bulan puasa Ramadan tempat ini menjadi tujuan wisata menjelang waktu berbuka. Baik pasangan muda-mudi, keluarga, maupun pengguna jalan yang ingin berbuka puasa saat melintas di lokasi itu.

Terlebih lagi, di Taman Bungkul ini, banyak sekali menu kuliner khas Suroboyoan, seperti rujak cingur, lontong balap Wonokromo, lontong mie, semanggi Suroboyo, dan menu makanan lain yang menjadi kuliner favorit bagi pengunjung. Warung-warung makan atau food court terorganisir secara rapi di taman kota ini.

Pedagang kaki lima yang menjajakan kue-kue, juga tidak mau ketinggalan berebut pembeli. Mereka dengan antusias menawarkan barang dagangannya menjelang Magrib.

Di Taman Bungkul juga terdapat tempat duduk yang teduh dan nyaman. Tempat itu dikelilingi pohon sono berusia tahunan, makin membuat pengunjung betah berlama-lama di taman itu.

Bagi pengunjung yang kehabisan air minum, di taman ini juga tersedia instalasi air siap minum. Tentu ini menjadi keunggulan tersendiri bagi taman kota tersebut.

"Ya memang tempat ini selalu ramai pengunjung, termasuk saat bulan puasa. Saya dan keluarga saya, sering nongkrong di sini. Kan ada tempat main anak-anak, jadi saya bisa ngajak anak-anak main sambil mencari hiburan. Apalagi, saat bulan puasa seperti sekarang ini, saya dan keluarga biasa menunggu Magrib di sini. Banyak yang jual makanan untuk buka puasa," ungkap Basuki, warga Jalan Dinoyo, Surabaya, Jumat (12/7) malam, yang tengah menemani keluarganya di Taman Bungkul.

Sementara bagi para pengunjung yang ingin bermujah sembari berwisata ria di bulan penuh berkah ini, di Taman Bungkul mereka bisa bertawassul atau berdoa di Komplek Makam Sunan Bungkul.

Taman Bungkul sendiri, diambil dari nama Mbah Bungkul, yang makamnya terletak di belakang taman. Mbah Bungkul sendiri adalah panggilan dari Ki Supo atau Ki Ageng Bungkul, seorang ulama di zaman Kerajaan Majapahit pada abad XV. Mbah Bungkul yang kemudian disebut sebagai Sunan Bungkul ini, juga saudara ipar dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Dikisahkan, semasa hidupnya, Ki Ageng Bungkul yang tinggal di Surabaya, pernah membuat sayembara, yaitu barangsiapa berhasil memetik buah delima dari pohon di pekarangan rumahnya, maka si pemetik buah itu akan dinikahkan dengan putrinya, Dewi Wardah yang cantik jelita.

Pohon delima itu bukan sembarang pohon. Setiap orang yang memetik buahnya akan tewas. Tetapi rezeki berpihak kepada Raden Paku yang kemudian bergelar Sunan Giri. Secara tidak sengaja beliau lewat di bawah pohon delima yang menakutkan itu. Tiba-tiba ada buah delima yang menimpa kepalanya.

Kejadian Raden Paku melaporkannya kepada Ki Ageng Bungkul dan gurunya, Sunan Ampel di kawasan Ampel Denta, Surabaya.Setelah kejadian itu, Raden Paku dinikahkan dengan Dewi Wardah. Pada kurun waktu tertentu, karena pengaruh Islam, Ki Ageng Bungkul ini digelari dengan sebutan Sunan Bungkul.

Ketika meninggal dunia beliau disemayamkan di tempat yang kemudian dikenal dengan nama Taman Bungkul.

Sebelum disulap menjadi tempat obyek wisata Kota Surabaya nan mempesona, Taman Bungkul merupakan komplek pemakan tua yang gelap, hampir bisa dibilang cukup angker, meski sering dikunjungi para peziarah Wali Songo. Namun, keberadaan pohon besar dan yoni makam, membuat bulu kudu merinding.

Dan sekarang, kesan angker sudah lenyap, justru Taman Bungkul menjadi tempat wisata yang cukup memikat. "Dulu waktu saya masih anak-anak, saat diajak ziarah Wali Songo sama orang tua saya, tempat ini, gelap dan sepi, tapi sekarang sudah ramai, tak ada kesan angker di sini," kata Nisha, warga Sidoarjo yang kebetulan tengah menemani suaminya menikmati indahnya Taman Bungkul.(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.